Salam Pesan Damai Abadi

Salam Pesan Damai Abadi

Ashar Tamanggong

Salam adalah kalimat paling tua, tapi selalu terasa muda. Dari zaman para nabi sampai hari ini, kalimat itu tidak pernah usang:

“Assalaamu‘alaikum wa rahmatullah.”

Keselamatan dan rahmat Allah untukmu.

Kalimat ini tidak lekang oleh zaman, tidak tergeser oleh teknologi, dan tidak kalah oleh hiruk-pikuk dunia. Karena damai selalu relevan, di era apa pun.

Menariknya, salam menjadi penutup sholat. Padahal kalau dipikir-pikir, sholat itu urusan vertikal—antara hamba dan Tuhannya. Tapi yang keluar terakhir justru pesan horizontal: doa keselamatan bagi sesama manusia. Seolah Allah ingin mengingatkan, “Kalau hubunganmu dengan-Ku benar, hubunganmu dengan manusia pasti ikut membaik.”

Isra’ Mi’raj adalah perjalanan agung yang menembus ruang dan waktu. Nabi Muhammad ﷺ naik ke langit, bertemu para nabi, menerima perintah sholat. Tapi beliau tidak tinggal di sana. Beliau turun kembali ke bumi, membawa satu misi besar: rahmat bagi seluruh alam.

Dan salam adalah ringkasan dari misi itu.

Di dunia yang penuh teriakan, salam datang dengan nada lembut. Di zaman orang berlomba bicara, salam hadir sebagai doa. Di tengah budaya saling menyalahkan, salam justru mendoakan keselamatan. Ini bukan sikap lemah. Ini kekuatan moral.

Banyak orang mudah mengucapkan salam di lisan, tapi sulit menghadirkannya dalam sikap. Bibir bilang damai, tangan sibuk menyakiti. Mulut mengucap rahmat, jari-jari menulis komentar pedas. Padahal salam menuntut konsistensi.

Menoleh ke kanan dan ke kiri saat salam bukan gerakan tanpa makna. Itu simbol bahwa damai harus menyentuh semua arah. Bukan hanya kepada yang sepaham, tapi juga yang berbeda. Bukan hanya kepada yang kita sukai, tapi juga yang membuat kita tidak nyaman.

Kalau salam hanya kita berikan pada orang yang sejalan, itu namanya selektif. Tapi sholat mengajarkan salam yang inklusif. Semua yang ada di sekitar kita berhak atas rasa aman dari diri kita.

Isra’ Mi’raj juga mengajarkan bahwa iman sering diuji oleh hal yang tidak masuk akal. Perjalanan semalam dari Makkah ke langit ketujuh itu di luar logika manusia. Tapi justru di situlah iman diuji. Dan salam adalah bukti bahwa iman yang benar melahirkan ketenangan, bukan kegaduhan.

Orang yang imannya sehat tidak merasa perlu berteriak. Ia cukup menyebarkan rasa aman. Tidak sibuk mencari pengakuan, tapi sibuk menjaga perasaan.

Salam juga pesan yang melintasi generasi. Orang tua mengajarkannya pada anak. Guru mencontohkannya pada murid. Jamaah menebarkannya di masjid. Bahkan orang yang baru masuk Islam, kalimat pertama yang diajarkan adalah salam. Karena damai adalah pintu masuk ke dalam iman.

Kalau kita jujur, dunia hari ini sedang kelelahan. Lelah oleh konflik, lelah oleh perdebatan, lelah oleh ego. Dan Islam datang dengan satu kalimat sederhana yang abadi: salam.

Bukan slogan kosong. Tapi doa yang harus dihidupkan.

Maka jangan biarkan salam berhenti di ucapan. Jadikan ia karakter. Jadikan ia cara bicara, cara memimpin, cara menegur, cara berbeda pendapat.

Salam menutup rangkaian sholat dengan satu pesan besar: puncak ibadah bukan pada gerakan terakhir, tapi pada dampak setelahnya. Apakah kehadiran kita menenangkan atau meresahkan.

Karena itu saat mengucap salam, niatkan dalam hati:

“Ya Allah, jadikan aku bagian dari orang-orang yang menghadirkan damai, bukan menambah luka.”

Karena salam bukan hanya penutup sholat.

Ia adalah pesan damai yang abadi—yang diturunkan dari langit, untuk dirawat di bumi.

Wallahu A'lam.