Shalat adalah Hadiah Langit, Bukan Beban Bumi

Shalat adalah Hadiah Langit, Bukan Beban Bumi

Ashar Tamanggong

Ketua Baznas Makassar

Setiap kali Isra’ Mi’raj diperingati, langit seakan terasa lebih dekat. Bukan karena jaraknya berkurang, tapi karena kita kembali diingatkan bahwa manusia—yang sering sibuk mengurus bumi—sesungguhnya punya jalur khusus ke langit. Jalur itu bukan roket, bukan satelit, bukan teknologi canggih. Jalur itu bernama sholat.

Ironisnya, hadiah paling agung dari langit justru sering kita rasakan sebagai beban. Lima waktu terasa berat, azan terdengar seperti gangguan, dan sajadah kadang hanya jadi pajangan. Padahal, dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, sholat bukan turun sebagai hukuman, tapi sebagai tanda cinta.

Isra’ Mi’raj terjadi bukan di masa Nabi Muhammad ﷺ sedang berjaya. Peristiwa ini turun setelah Nabi melewati fase paling gelap dalam hidupnya: wafatnya Khadijah r.a. dan Abu Thalib, penolakan kejam di Thaif, serta tekanan sosial yang nyaris tak tertahankan. Dalam bahasa sederhana, Nabi sedang lelah, sedih, dan sendiri. Lalu Allah memanggil beliau, bukan untuk ditegur, tapi untuk dikuatkan.

Menariknya, oleh-oleh dari perjalanan menembus langit bukan emas, bukan mukjizat baru, bukan kekuatan super. Yang dibawa pulang justru sholat. Ini pesan yang sangat jelas: ketika hidup terasa berat, solusi yang Allah tawarkan bukan pengurangan masalah, tapi penambahan kedekatan.

Awalnya sholat diwajibkan 50 waktu. Bukan karena Allah ingin memberatkan, tapi untuk menunjukkan betapa pentingnya sholat dalam struktur kehidupan manusia. Setelah dialog Nabi ﷺ dan rahmat Allah, sholat diringankan menjadi lima waktu, dengan pahala tetap setara lima puluh. Artinya, Allah tidak pernah ingin memberatkan, manusia saja yang sering salah memahami.

Masalah kita hari ini bukan pada jumlah sholat, tapi pada cara memandang sholat. Banyak orang memperlakukan sholat seperti cicilan: kalau bisa ditunda, ditunda dulu. Kalau bisa dipercepat, dipercepat sekalian. Bahkan ada yang sholat hanya karena takut dosa, bukan karena rindu bertemu Tuhan. Sholat akhirnya kehilangan rasa, tinggal gerakan.

Padahal sholat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah tanpa perantara. Ini bukan sekadar kewajiban ritual, tapi kehormatan spiritual. Dalam sholat, manusia—yang penuh salah dan lupa—diberi akses langsung menghadap Pencipta langit dan bumi. Tidak perlu proposal, tidak perlu antre, tidak perlu jaringan internet. Cukup wudhu, niat, dan sujud.

Kalau sholat benar-benar kita pahami sebagai hadiah, cara kita menjalaninya pasti berbeda. Kita akan menyiapkan diri, bukan sekadar menggugurkan. Kita akan menjaga waktu, bukan menunggu sisa. Kita akan menghadirkan hati, bukan hanya raga. Sebab hadiah yang mahal tidak mungkin diperlakukan asal-asalan.

Sering kita mengeluh hidup terasa sempit, hati mudah marah, dan masalah datang bertubi-tubi. Tapi jarang kita bertanya dengan jujur: bagaimana kualitas sholatku? Sebab sholat bukan hanya berdampak di akhirat, tapi juga mengatur kestabilan emosi, kejernihan berpikir, dan ketenangan jiwa di dunia.

Allah berfirman, “Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” 

Jika sholat tidak lagi mencegah, boleh jadi yang rusak bukan ajarannya, tapi pelaksanaannya. Kita sholat, tapi tidak sungguh-sungguh hadir. Kita sujud, tapi hati tetap berdiri sombong.

Isra’ Mi’raj juga mengajarkan bahwa jalan ke langit selalu dimulai dari sajadah. Nabi ﷺ naik ke Sidratul Muntaha, kita cukup naikkan kualitas sholat kita. Tidak semua orang mampu menembus langit, tapi semua orang diberi kesempatan untuk bersujud.

Maka jangan heran jika sholat sering digoda untuk ditinggalkan. Setan paham betul, jika sholat dijaga, hidup akan tertata. Jika sholat rusak, iman akan bocor. Itulah sebabnya, sholat menjadi medan pertempuran utama antara kesadaran dan kelalaian.

Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa tahunan untuk dikenang, tapi pesan harian untuk dijalankan. Bahwa di tengah hidup yang bising, Allah menyediakan ruang sunyi bernama sholat. Bahwa di tengah beban dunia, Allah menghadiahkan cara untuk tetap tegak berdiri.

Sholat bukan beban bumi. Ia adalah hadiah langit. Tinggal satu pertanyaan untuk kita semua:

apakah hadiah itu akan terus kita abaikan, atau mulai kita jaga dengan penuh cinta?

Karena siapa yang menjaga sholatnya, sesungguhnya sedang dijaga hidupnya oleh Allah.

Manggarupi, 10 Jan 2026