Tetangga, Penolong Paling Cepat

Tetangga, Penolong Paling Cepat

 Ashar Tamanggong

Ketua Baznas Makassar 

Di zaman sekarang, kita hidup berdampingan tapi sering tidak benar-benar bertetangga. Rumah berdempetan, tapi hati berjauhan. Pagar tinggi, gembok dobel, CCTV empat sudut, tapi yang dijaga cuma harta, bukan hubungan. Ironisnya, saat musibah datang, yang paling cepat menolong bukan CCTV, bukan gembok, bukan pula Google—melainkan tetangga.

Coba bayangkan begini. Jam dua dini hari, gas bocor, listrik padam, atau anak tiba-tiba kejang. Apa yang pertama kita lakukan? Buka aplikasi belanja? Tidak. Update status? Tidak sempat. Yang sering refleks keluar justru teriakan, “Tolong… tolong!” Dan siapa yang paling cepat mendengar? Ya tetangga. Yang rumahnya hanya dipisahkan satu dinding, satu pagar, atau bahkan cuma satu jemuran.

Islam sudah jauh-jauh hari mengingatkan soal ini. Rasulullah ﷺ sampai bersabda bahwa Jibril terus-menerus berwasiat tentang tetangga, sampai Nabi mengira tetangga akan mendapat bagian warisan. Bayangkan, warisan itu biasanya untuk keluarga inti. Tapi tetangga hampir “naik kelas” saking pentingnya. Ini menandakan bahwa iman itu tidak berhenti di sajadah, tapi menyeberang sampai ke pagar rumah.

Masalahnya, hari ini kita sering lebih kenal influencer daripada tetangga. Lebih hafal nama artis Korea daripada nama ibu sebelah rumah. Kalau tetangga lewat, pura-pura sibuk pegang HP. Tapi kalau HP hilang, panik setengah mati. Padahal yang mungkin pertama membantu mencari justru… tetangga lagi.

Tetangga itu ibarat APAR—alat pemadam api ringan. Tidak dipakai setiap hari, tapi saat api muncul, dia sangat menentukan. Kebakaran kecil bisa padam sebelum membesar kalau APAR-nya dekat dan berfungsi. Tapi kalau APAR-nya rusak, atau malah disimpan tapi tak pernah dirawat, api kecil bisa jadi besar. Begitu pula hubungan bertetangga. Kalau sejak awal dingin, saat masalah datang, bantuan bisa terlambat—atau malah tidak datang.

Lucunya, kita sering menuntut: “Tetangga harus peduli.” Tapi lupa bertanya: saya sudah peduli belum? Kita ingin ditolong cepat, tapi jarang menyapa. Ingin orang datang saat kita susah, tapi saat orang lain kesusahan, kita bilang, “Bukan urusanku.” Padahal dalam Islam, kepedulian sosial itu bukan opsional. Itu tanda iman.

Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan bahwa seseorang belum sempurna imannya jika tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan. Artinya, iman bukan hanya urusan pribadi, tapi juga urusan sosial. Bukan cuma soal halal-haram di piring kita, tapi juga soal ada-tidaknya empati di hati kita.

Menjadi tetangga baik itu sebenarnya sederhana. Tidak perlu ceramah panjang. Kadang cukup senyum, salam, dan sapa. Murah, tapi dampaknya mahal. Senyum bisa mencairkan kecurigaan. Salam bisa membuka pintu hati. Sapa bisa menumbuhkan rasa aman. Hubungan baik tidak dibangun saat darurat, tapi jauh sebelum darurat.

Jangan tunggu musibah untuk akrab. Jangan tunggu butuh baru kenal. Karena hubungan yang dibangun saat butuh biasanya terasa berat, tapi hubungan yang dibangun saat lapang terasa ringan. Ibarat payung, jangan tunggu hujan baru mencari. Nanti keburu basah.

Tetangga juga bukan malaikat. Pasti ada kurangnya. Kadang berisik, kadang nyebelin, kadang parkirnya makan badan jalan. Tapi di situlah ladang pahala. Sabar pada tetangga itu bukan tanda kalah, tapi tanda dewasa iman. Mengalah sedikit bisa menyelamatkan banyak hal: ketenangan, persaudaraan, dan keberkahan lingkungan.

Di akhir hayat nanti, bisa jadi bukan teman kantor yang memandikan jenazah kita. Bukan pula rekan bisnis yang mengantar ke kubur. Seringkali justru tetangga. Orang yang setiap hari kita jumpai, yang mungkin sering kita abaikan. Maka sebelum ajal datang, mari benahi hubungan paling dekat dengan kita.

Karena pada akhirnya, tetangga adalah penolong paling cepat. Lebih cepat dari ambulans, lebih cepat dari saudara jauh, bahkan lebih cepat dari sinyal internet. Tapi kecepatan itu hanya berlaku kalau hubungan sudah disiapkan sejak awal. Maka rawatlah tetangga, sebelum kita benar-benar membutuhkan mereka—dan sebelum kita sendiri dibutuhkan oleh mereka.

Wassalam 

Manggarupi, 9 jan 2026