Raker Laznas Akzis Al Washiliyah

Raker Laznas Akzis Al Washiliyah

Bogor, BBI GO ID----Umat Islam berdakwah melalui pintu depan, berdakwah di podium, berdakwah melalui cakap-cakap (ceramah-red), sementara yang non berdakwah melalui dapur. Mereka masuk melalui dapur tidak melalui pintu depan.

Hal ini dikemukakan Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah (PB Al Washliyah), Dr.H.Masyhuril Khamis, SH,MM pada pembukaan rapat kerja Lembaga Amil Zakat Nasional Al Washliyah, Zakat, Infaq dan Sedekah (Laznas Alzis), di Ujung Rimba Camp Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin malm(12/2026).

Hadir antara lain, antara lain Bendahara Umum PB Al Washliyah, Drs.H.Rijal Naibaho, MM, Ketua Bidang Kader PB Al Washliyah, Kolonel Purn Drs H.Muhammad Zaid, MM, Sekretaris PB Al Washliyah, Dr.KH.Iskandar Mirza, MA, yang juga pengawas Laznas Alzis, Direktur Laznas Alzis, Muhammad Affan, S.Si, serta peserta rapat perencanaan strategis Laznas Alzis tahun anggaran 2026.

Rapat ini berasal dari Jabodetabek, Sumatera Utara, NTT, Bandung, Sukabumi, Jawa Barat, pengrus LP3H, Koperasi Al Washliyah, Wakaf Center dan unsur lainnya.

“Artinya apa? Mereka penuhi kebutuhan dapurnya, mereka penuhi kebutuhan hidupnya, mereka penuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, sementara mereka tak perlu banyak cakap, tapi orang sudah memeluk agamanya,” kata Masyhuril Khamis.

Orang nomor satu di jajaran Ormas Islam Al Washliyah ini memaparkan perjalanannya di Kalimantan, dalam rangkaian kegiatan silaturahmi dengan pengurus Al Washliyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Menurut dia, hal serupa mungkin terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). “Mungkin di NTT juga sama, saya pernah ke NTT,” katanya.

“Ada pengalaman di sana, Ketika habis ceramah banyak ibu-ibu ngumpul. Saya piker banyak ibu-ibu ngumpul karena senang mendengar ceramah saya, ternyata bukan. Mereka datang membawa makanan, dan makanan itu harus dimakan semua,” paparnya.

Menurut Masyhuril Khamis, apabila makanan yang disajikan tidak dicicipi oleh penceramah pada acara itu, maka akan ribut sekampung. Karena makanan yang dibawa dianggap tidak direstui ustad. Akhinya, makanan yang banyak yang dibawa itu dicicipi satu persatu.(bur)