Wudhu Bersih Fisik, Suci Bathin

Wudhu Bersih Fisik, Suci Bathin

Ashar Tamanggong

Ketua Baznas Kota Makassar 

Sebelum Nabi Muhammad ﷺ melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj, ada satu proses yang sering kita anggap sepele, padahal sangat menentukan. Dada Nabi dibelah, hati beliau dibersihkan, lalu diisi dengan iman dan hikmah. Setelah itu barulah beliau “naik”.

Artinya jelas: sebelum naik ke langit, harus dibersihkan dulu isinya.

Pesan ini terasa sangat dekat dengan satu ritual yang kita lakukan hampir setiap hari, tapi sering tanpa rasa: wudhu. Air mengalir di wajah, tangan, kepala, dan kaki. Secara fiqih sah. Tapi pertanyaannya, apakah batinnya ikut bersih, atau cuma badannya yang basah?

Banyak dari kita rajin wudhu, tapi masih membawa emosi ke dalam sholat. Air sudah membasuh tangan, tapi hati masih menggenggam amarah. Wajah sudah segar, tapi pikiran masih keruh oleh iri, dengki, dan prasangka. Akhirnya sholat terasa kering, karena wudhunya hanya sampai kulit, tidak sampai ke batin.

Padahal wudhu itu bukan sekadar syarat sah sholat. Wudhu adalah ritual transisi—dari dunia ke hadapan Allah. Dari ributnya urusan hidup menuju ruang tenang bernama ibadah. 

Maka kalau masuk sholat masih bawa emosi dunia, jangan salahkan sholatnya. Bisa jadi wudhunya terlalu tergesa-gesa.

Kita sering wudhu seperti cuci tangan mau makan gorengan. Cepat, asal basah, selesai. Bahkan ada yang sambil wudhu masih ngobrol, masih ketawa, masih pegang HP. Air mengalir, tapi kesadaran tidak ikut mengalir.

Coba perhatikan urutannya. Wajah dibasuh pertama. Seolah Allah mengingatkan, “Bersihkan dulu apa yang paling sering dilihat orang.” Tapi wudhu tidak berhenti di wajah. Tangan dibasuh. Karena tangan paling sering dipakai—untuk bekerja, tapi juga untuk menyakiti. Kepala diusap. Karena pikiran sering jadi sumber masalah. Kaki dibasuh. Karena langkah sering membawa ke tempat yang salah.

Kalau air wudhu bisa bicara, mungkin dia akan bertanya pelan:

“Ini cuma mau bersih, atau mau berubah?”

Isra’ Mi’raj memberi pesan bahwa perjalanan spiritual tidak dimulai dari sholat, tapi dari pembersihan diri. Nabi ﷺ tidak langsung naik ke langit. Beliau dibersihkan dulu. Dan kita pun tidak diminta langsung khusyuk, tapi diminta bersih dulu—lahir dan batin.

Sayangnya, kita sering berharap sholat memperbaiki hidup, tapi malas membersihkan batin. Kita ingin tenang, tapi masih memelihara dengki. Kita ingin doa cepat naik, tapi hati masih kotor oleh rasa paling benar sendiri. Ini seperti ingin air jernih mengalir di pipa yang penuh lumpur.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa dosa-dosa kecil gugur bersama tetesan air wudhu. Tapi dosa yang dipelihara di hati tidak akan hilang hanya dengan air, kalau tidak disertai niat dan kesadaran. Wudhu bukan sulap. Ia bekerja bersama kejujuran hati.

Wudhu juga mengajarkan jeda. Kita diminta berhenti sejenak dari urusan dunia. Menyentuh air. Merasakan dingin. Mengatur napas. Dalam dunia yang serba cepat, wudhu adalah latihan melambat. Sayangnya, justru wudhu sering kita percepat.

Padahal kalau wudhu dilakukan dengan sadar, ia sudah jadi terapi. Banyak orang stres, gelisah, mudah marah. Padahal solusinya sederhana: ambil wudhu dengan tenang. Bukan karena airnya sakti, tapi karena di situ ada kepasrahan.

Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa Allah ingin hamba-Nya datang dalam keadaan bersih, bukan sempurna. Bersih dari kesombongan. Bersih dari merasa paling benar. Bersih dari beban dunia yang terlalu dibawa ke sajadah.

Maka jangan remehkan wudhu. Jangan anggap ia sekadar pembuka sholat. Ia adalah gerbang kesadaran. Kalau gerbangnya dilewati sambil lalai, jangan heran ruang di dalam terasa hampa.

Coba sesekali, wudhu dengan niat: “Ya Allah, basuh bukan cuma tubuhku, tapi juga hatiku.” Tidak perlu lama. Tidak perlu berat. Cukup hadir.

Karena wudhu yang benar bukan hanya membuat wajah segar, tapi membuat hati lebih ringan. Dan dari hati yang ringan itulah, sholat mulai bernapas.

Dalam serial Isra’ Mi’raj ini, kita kembali diingatkan:

jalan ke langit bukan hanya lewat sujud, tapi diawali dengan wudhu—bersih fisik, suci batin.

Wallahu A'lam