Perjalanan Singkat, Tanggung Jawab Berat

Perjalanan Singkat, Tanggung Jawab Berat

Ashar Tamanggong

Ketua Baznas Makassar 

Isra’ Mi‘raj adalah peristiwa yang secara logika sulit diterima, tapi secara iman justru menguatkan. Dalam satu malam, Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan yang jika kita hitung dengan akal hari ini, butuh waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Namun bagi Allah, jarak bukan masalah. Yang sering jadi masalah justru kesiapan manusia menerima amanah setelahnya.

Perjalanan Isra’ Mi‘raj itu singkat. Tapi tanggung jawab yang dibawa Nabi pulang—shalat—sangat berat. Dan sampai hari ini, amanah itu masih kita pikul bersama.

Kadang kita terlalu fokus pada bagaimana Nabi naik ke langit: naik apa, lewat mana, bertemu siapa. Tapi kita lupa bertanya: apa yang Nabi bawa pulang untuk kita? Jawabannya sederhana tapi mendalam: shalat. Bukan teori baru, bukan wacana besar, tapi satu ibadah yang kelihatannya biasa, namun dampaknya luar biasa.

Isra’ Mi‘raj terjadi setelah Nabi mengalami masa paling berat dalam hidupnya: wafatnya Khadijah, wafatnya Abu Thalib, penolakan di Thaif, lemparan batu, luka fisik dan batin. Dalam bahasa kita hari ini: Nabi sedang diuji habis-habisan. Tapi justru setelah ujian terberat itu, Allah menghadiahkan perjalanan teragung. Ini pesan penting: pertolongan Allah sering datang setelah kesabaran mencapai batasnya.

Lalu Allah tidak memberi Nabi hadiah harta, kekuasaan, atau kemenangan instan. Allah memberi shalat. Seolah Allah berkata, “Wahai Muhammad, kalau beban hidup terasa berat, ini alat untuk mengangkatnya.”

Ironisnya, umat Nabi hari ini sering menjadikan shalat sebagai beban, bukan alat. Kita berkata, “Nanti dulu shalat, lagi sibuk.” Padahal shalat itu bukan mengganggu kesibukan, tapi menata kesibukan. Kalau shalat saja sering ditunda, jangan heran hidup sering tidak tepat waktu.

Isra’ Mi‘raj juga mengajarkan bahwa kenaikan derajat hidup tidak ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan kita, tapi seberapa sering kita sujud. Naik karier boleh, naik pangkat silakan, tapi jangan sampai sujud makin jarang. Karena dalam Islam, jalan ke langit bukan lewat tangga kekuasaan, tapi lewat sajadah.

Shalat menjadi satu-satunya ibadah yang perintahnya tidak diwakilkan. Nabi tidak menerima perintah ini lewat Jibril di bumi, tapi langsung di Sidratul Muntaha. Ini penegasan: shalat adalah urusan langsung antara hamba dan Tuhannya. Maka jangan heran jika shalat menjadi ukuran kualitas iman seseorang.

Namun shalat yang dimaksud bukan sekadar hadir fisik. Bukan shalat yang gerakannya lengkap tapi hatinya hilang. Kadang kita berdiri menghadap kiblat, tapi hati masih menghadap dunia. Mulut membaca ayat, pikiran menghitung cicilan. Kalau begitu, jangan marah kalau shalat belum memberi dampak besar pada akhlak. Karena shalat yang belum sampai ke hati, sulit turun ke perilaku.

Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa iman memang sering diuji oleh hal-hal yang tidak masuk akal. Banyak orang Quraisy menertawakan Nabi. Bahkan ada yang murtad. Tapi Abu Bakar berkata, “Jika Muhammad yang mengatakan, aku percaya.” Inilah iman: bukan sekadar logika, tapi kepercayaan penuh kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hari ini pun iman kita diuji. Bukan lagi dengan kisah naik ke langit, tapi dengan konsistensi shalat di tengah dunia yang serba cepat. Azan kalah oleh notifikasi. Sajadah kalah oleh deadline. Masjid kalah oleh jadwal rapat. Padahal dari masjidlah seharusnya peradaban umat dibangun.

Isra’ Mi‘raj juga menegaskan bahwa masalah hidup tidak diselesaikan dengan menjauh dari Allah, tapi dengan mendekat kepada-Nya. Nabi tidak lari dari shalat saat hidup berat. Justru shalat menjadi tempat Nabi bersandar. Maka aneh kalau hari ini, semakin banyak masalah, justru shalat yang pertama kali dikorbankan.

Perjalanan Isra’ Mi‘raj singkat, tapi tanggung jawab shalat berlaku seumur hidup. Lima waktu setiap hari. Konsisten. Terus-menerus. Di situlah beratnya. Karena yang berat dalam agama bukan yang besar, tapi yang istiqamah.

Akhirnya, Isra’ Mi‘raj bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah cermin harian. Sudah sejauh mana shalat kita mengangkat derajat hidup? Sudah sejauh mana sujud kita mempengaruhi sikap? Kalau shalat masih belum mengubah apa-apa, mungkin bukan shalatnya yang kurang, tapi kesungguhan kita di dalamnya.

Semoga Isra’ Mi‘raj tidak hanya kita kenang sebagai perjalanan Nabi ke langit, tapi menjadi perjalanan kita sendiri—dari lalai menuju sadar, dari rutinitas menuju makna, dari shalat yang sekadar menggugurkan kewajiban menuju shalat yang menghidupkan kehidupan.

Wallahu a‘lam.

Manggarupi,12 Jan 2026