Layakkah Kita Bertetangga dengan Rasulullah SAW?
Tamanggong
Pembimbing Haji Patria Wisata
Siapa di antara kita yang ingin bertetangga dengan Rasulullah Saw? Pertanyaan ini sering kita jawab cepat di hati: “Saya!” Tapi biasanya berhenti di sana. Padahal, bertetangga dengan Rasulullah bukan sekadar mimpi eskatologis tentang surga. Ia justru pertanyaan paling membumi tentang cara hidup kita hari ini.
Rasulullah Saw pernah bersabda, “Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi). Menarik, Nabi tidak menyebut yang paling banyak hafalan, paling panjang jenggotnya, atau paling keras suaranya saat ceramah. Yang disebut justru akhlak. Bahasa sederhananya begini: kalau mau serumah kompleks dengan Nabi di akhirat, cek dulu perilaku kita di gang rumah sendiri.
Bertetangga itu urusan remeh tapi menentukan. Kita sering serius membahas rukun iman dan rukun Islam, tapi gugup ketika berhadapan dengan rukun tetangga. Padahal, kualitas iman sering bocor justru di pagar rumah. Di masjid kita sopan, di rumah kita galak. Di pengajian kita lembut, di grup WhatsApp RT kita keras. Aneh tapi nyata.
Rasulullah Saw adalah tetangga ideal. Beliau bukan tipe tetangga yang hanya rajin ikut arisan tapi absen saat ada yang sakit. Beliau bukan yang parkir sembarangan lalu bilang, “Sebentar ji.” Nabi adalah tetangga yang kehadirannya menenangkan, bukan menegangkan. Bahkan kepada tetangga Yahudi yang sering menyakiti beliau pun, Nabi tetap menunjukkan adab kelas langit. Ketika tetangganya sakit dan tidak lagi mengganggunya, Nabi justru menjenguk. Ini level bertetangga yang kalau diterapkan hari ini, bisa bikin grup RT bubar karena malu.
Kita sering ingin dekat dengan Nabi tapi alergi dengan tetangga. Kita rindu Raudhah, tapi lupa halaman rumah orang sebelah. Kita ingin salam dari Nabi di surga, tapi pelit salam ke tetangga di dunia. Padahal, Nabi mengingatkan dengan sangat tegas: “Tidak beriman seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Perhatikan kalimatnya: “tidak beriman”, bukan “imannya kurang sinyal”.
Di sinilah iman diuji. Bertetangga bukan soal jarak rumah, tapi jarak hati. Ada rumah yang berdempetan tapi hati berjauhan. Ada yang satu kompleks tapi tak pernah saling sapa. Bahkan ada yang satu saf di masjid, tapi di luar masjid saling sindir. Kalau ini yang terjadi, jangankan bertetangga dengan Rasulullah, bertetangga dengan malaikat pencatat amal saja sudah bikin deg-degan.
Bertetangga dengan Rasulullah Saw berarti menjadi orang yang dirindukan kehadirannya dan dirasakan manfaatnya. Nabi tidak pernah menyusahkan orang lain demi kenyamanan pribadi. Kita? Sedikit-sedikit, “Yang penting saya nyaman.” Parkir menutup jalan, musik keras tengah malam, sampah dilempar ke halaman orang, lalu ditutup dengan kalimat pamungkas: “Namanya juga bertetangga, harus saling mengerti.” Iya, saling mengerti, bukan saling menginjak.
Rasulullah mengajarkan empati tingkat tinggi. Jika kita memasak, Nabi menyarankan untuk memperbanyak kuah agar bisa dibagi ke tetangga. Hari ini, jangankan menambah kuah, aromanya saja kita tutup rapat-rapat. Takut ketahuan, takut diminta. Padahal, berbagi dengan tetangga itu bukan bikin miskin, justru bikin hidup berkah. Rezeki itu suka lewat pintu yang bernama kepedulian.
Bertetangga dengan Rasulullah juga berarti menjaga lisan. Nabi adalah sosok yang paling terjaga ucapannya. Kita? Kadang lebih cepat jari daripada hati. Gosip tetangga jadi hiburan, aib orang jadi bahan candaan. Padahal, bisa jadi tetangga yang kita gunjing itulah yang lebih dekat dengan Rasulullah kelak, sementara kita sibuk menjelaskan status “online” tapi miskin akhlak.
Yang paling berat tapi paling menentukan: memaafkan. Nabi memaafkan bukan karena lemah, tapi karena kuat. Kita sering tidak memaafkan bukan karena prinsip, tapi karena ego. Bertetangga dengan Rasulullah menuntut kita belajar lapang dada. Sebab, surga itu sempit bagi orang yang hatinya penuh dendam.
Akhirnya, bertetangga dengan Rasulullah Saw bukan soal alamat akhirat semata, tapi proyek akhlak seumur hidup. Mulainya dari hal kecil: senyum, salam, tidak menyakiti, mau membantu, dan ringan memaafkan. Jangan-jangan, jalan tercepat menuju kedekatan dengan Nabi bukan lewat pesawat ke Madinah, tapi lewat sikap kita di depan rumah sendiri.
Karena bisa jadi, tetangga kita hari ini adalah saksi apakah kita layak bertetangga dengan Rasulullah kelak. Jika tetangga kita merasa aman, nyaman, dan dihargai, semoga itu menjadi tiket kecil—tapi sah—untuk tinggal di kompleks yang sama dengan manusia paling mulia sepanjang sejarah. Aamiin.
Wallahu A'lam
Madinah, 24 Jan 2026