Duduk di Antara Dua Sujud :Ruang Harap Seorang Hamba

Duduk di Antara Dua Sujud :Ruang Harap Seorang Hamba

 Ashar Tamanggong 

Pembimbing Haji Patria Wisata 

Setelah sujud—titik terendah yang mendekatkan kita kepada Allah—sholat tidak langsung mengajak kita bangkit atau berdiri. Ada satu posisi yang sering dilewati cepat-cepat, bahkan nyaris tak terasa: duduk di antara dua sujud. Padahal inilah salah satu momen paling manusiawi dalam sholat. Di sinilah hamba berhenti sejenak, menghela napas, lalu berharap.

Posisinya tidak tinggi, tidak juga serendah sujud. Kita duduk. Tubuh beristirahat. Jiwa diberi ruang. Seolah sholat ingin berkata, “Tenang dulu. Jangan terburu-buru.”

Dan di posisi inilah kita membaca doa yang sangat jujur:

“Rabbighfir lii, warhamnii, wajburnii, warfa‘nii, warzuqnii, wahdinii, wa‘aafinii, wa'fu'annii”

Perhatikan isinya. Tidak ada kalimat pamer. Tidak ada klaim kesalehan. Isinya permohonan semua. Ampuni aku. Sayangi aku. Cukupi kekuranganku. Angkat derajatku. Beri aku rezeki. Beri aku petunjuk. Beri aku kesehatan dan Maafkan kesalahanku.

Ini doa orang yang sadar diri. Sadar bahwa hidup ini penuh kekurangan. Dan kesadaran seperti ini lahir setelah sujud.

Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak meminta dunia saat berada di langit. Yang beliau terima justru perintah sholat—jalan perbaikan manusia. Dan duduk di antara dua sujud adalah gambaran kondisi manusia itu sendiri: lemah, berharap, dan terus belajar bangkit.

Lucunya, kita sering membaca doa ini cepat sekali. Padahal isinya panjang dan lengkap. Mungkin karena kita malu mengakui terlalu banyak kekurangan. Atau mungkin karena kita sudah terlalu terbiasa meminta, tapi jarang merenung.

Duduk di antara dua sujud adalah ruang evaluasi singkat. Setelah kita merendahkan diri total di sujud, kita diizinkan duduk dan berkata jujur: “Ya Allah, aku butuh banyak hal.” Tidak satu. Banyak.

Perhatikan urutannya. Ampunan dulu, baru rahmat. Perbaikan dulu, baru peninggian. Setelah meminta rezeki, kita mohon petunjuk. Sehat dulu, baru melangkah. Islam mengajarkan urutan yang rapi. Hidup kita sering kacau karena urutannya terbalik.

Kita ingin diangkat derajat, tapi malas memperbaiki diri. Ingin rezeki lancar, tapi enggan minta petunjuk. Ingin sehat, tapi tidak mau berubah pola hidup. Padahal doa duduk di antara dua sujud sudah sangat lengkap sebagai peta hidup.

Posisi duduk ini juga simbol rehat spiritual. Hidup tidak selalu tentang terus menunduk atau terus bangkit. Ada saatnya berhenti sebentar, mengumpulkan harapan, lalu melanjutkan.

Banyak orang kelelahan bukan karena terlalu banyak sujud, tapi karena jarang memberi ruang duduk bagi jiwanya. Jarang jujur pada diri sendiri. Jarang mengakui lemah. Padahal pengakuan lemah itulah yang membuka pintu pertolongan.

Dalam konteks Isra’ Mi’raj, duduk di antara dua sujud mengajarkan bahwa perjalanan ke langit tidak selalu lurus ke atas. Ada jeda. Ada fase. Ada proses. Dan semuanya bermakna.

Sayangnya, di luar sholat kita sering tidak sabar dengan proses. Baru sujud sekali, sudah ingin langsung diangkat. Baru berdoa sebentar, sudah ingin hasil besar. Padahal sholat mengajari: ada duduk di antara dua sujud.

Kalau saja makna ini kita bawa ke hidup sehari-hari, mungkin kita akan lebih sabar dengan diri sendiri. Tidak terlalu keras. Tidak terlalu menuntut. Karena kita ingat, Allah sendiri memberi ruang bagi hamba-Nya untuk duduk dan berharap.

Maka lain kali saat duduk di antara dua sujud, jangan terburu-buru. Rasakan posisi itu. Resapi doanya. Biarkan ia menjadi percakapan jujur antara hamba dan Rabb-nya.

Karena di situlah kita belajar satu hal penting:

setelah merendah, kita boleh berharap;

setelah jatuh, kita diberi kesempatan untuk pulih.

Dan duduk di antara dua sujud pun berubah makna—bukan sekadar jeda gerakan, tapi ruang harap bagi jiwa yang sedang belajar bangkit.

Wallahu A'lam