Ketika Tanggal Kematian ku Semakin Dekat

Ketika Tanggal Kematian ku Semakin Dekat

(17 Peb 1973 - 17 Peb 2026)

Ashar Tamanggong

Angka 53 itu unik. Ia bukan sekadar angka. Ia seperti alarm yang tidak bunyi, tapi terasa. Tidak berisik, tapi menggetarkan. Tidak menakutkan, tapi menyadarkan.

Dulu, waktu umur 17, kematian itu seperti berita di televisi. Jauh. Milik orang lain. Seperti kisah di koran yang kita baca sambil ngopi. Kita bilang, “Innalillahi…” lalu lanjut makan gorengan.

Masuk umur 30-an, kematian mulai terasa seperti tetangga beda gang. Kadang menyapa. Kadang mengagetkan. Ada teman sekolah yang pergi. Ada sahabat yang lebih dulu dipanggil. Kita mulai berpikir, “Kok cepat ya?”

Masuk 40-an, kematian seperti tetangga depan rumah. Kita mulai sering takziyah. Mulai hafal doa masuk kubur. Mulai mengerti bahwa liang lahat itu bukan dongeng.

Dan di angka 53…

Kematian bukan lagi tetangga. Ia seperti bayangan sendiri. Ke mana pun kita melangkah, ia ikut. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengingatkan.

Allah sudah mengingatkan sejak lama dalam Al-Qur'an:

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”

Bukan “mungkin”.

Bukan “nanti kalau sempat”.

Bukan “kalau sudah tua sekali”.

Pasti.

Milad ke-53 bukan sekadar tiup lilin. Ini bukan soal kue tart atau ucapan selamat. Ini soal sisa jatah hidup yang tidak pernah kita tahu berapa angkanya.

Kalau rata-rata usia manusia 60-an, berarti saya sudah masuk bab akhir. Kalau hidup ini buku, mungkin ini sudah masuk halaman-halaman penutup. Tinggal epilog, bukan prolog lagi.

Anehnya, di usia segini kadang kita masih sibuk dengan hal-hal kecil. Masih sensitif dengan komentar orang. Masih tersinggung oleh hal sepele. Masih ingin dipuji. Masih ingin dianggap paling benar.

Padahal malaikat pencatat amal tidak pernah cuti.

Saya kadang tersenyum sendiri. Dulu waktu muda, doa panjang sekali: minta rezeki, minta jabatan, minta kelancaran usaha, minta anak sukses. Sekarang, di usia 53, doa mulai berubah.

“Ya Allah, kalau sisa umurku sedikit, jadikan ia berkah.”

“Ya Allah, jangan Engkau cabut nyawaku sebelum Engkau ampuni dosaku.”

Dulu takut miskin. Sekarang lebih takut pulang dalam keadaan rugi.

Ada satu momen yang sering membuat saya terdiam. Ketika melihat teman sebaya yang sudah lebih dulu dipanggil. Umurnya tidak jauh beda. Aktivitasnya sama. Cita-citanya masih banyak. Tapi takdirnya selesai.

Kematian tidak menunggu kalender kosong.

Ia datang di tengah jadwal padat.

Milad ke-53 membuat saya sadar, mungkin yang berkurang bukan umur. Umur itu sebenarnya tetap—sudah ditetapkan. Yang berkurang adalah jatah kesempatan.

Kesempatan minta maaf.

Kesempatan memperbaiki niat.

Kesempatan mengembalikan hak orang.

Kesempatan memeluk orang tua—kalau masih ada.

Kalau orang tua sudah tiada, yang tersisa hanya doa dan penyesalan.

Di usia ini, saya belajar satu hal: yang paling mahal bukan emas, bukan tanah, bukan jabatan. Yang paling mahal adalah husnul khatimah.

Banyak orang sukses menutup kariernya dengan gemilang, tapi gagal menutup hidupnya dengan iman.

Kita sering merayakan ulang tahun dengan gegap gempita. Padahal sejatinya yang bertambah bukan umur, tapi jarak menuju kubur yang semakin pendek.

Ada yang berkata, “Ah, jangan ngomongin mati di hari ulang tahun. Nanti suasana jadi sedih.”

Justru karena ulang tahun, kita harus berani bicara mati. Supaya hidup tidak lagi sembarangan.

Saya di usia 53 mulai mengurangi debat yang tidak perlu. Mengurangi gengsi yang tidak penting. Mengurangi marah yang tidak produktif. Bukan karena sudah suci, tapi karena sadar: energi hidup ini terbatas.

Kalau dulu ingin dikenal banyak orang, sekarang ingin dikenal dan dekat dengan Allah.

Kalau dulu ingin namanya disebut manusia, sekarang ingin namanya tercatat sebagai hamba yang pulang dengan senyum.

Milad ke-53 adalah pengingat bahwa hidup bukan soal panjangnya, tapi dalamnya. Bukan soal lamanya, tapi isinya.

Ada orang hidup 30 tahun tapi penuh makna. Ada yang hidup 70 tahun tapi kosong makna.

Saya tidak tahu sisa umur berapa. Bisa jadi masih panjang. Bisa jadi tinggal hitungan. Tapi satu yang pasti: kematian bukan ancaman, ia adalah kepastian.

Dan kepastian itu harus disambut dengan persiapan, bukan kepanikan.

Di usia ini, saya ingin lebih banyak berdamai. Berdamai dengan masa lalu. Berdamai dengan kekurangan diri. Berdamai dengan orang-orang yang pernah menyakiti—dan yang pernah saya sakiti.

Karena di ujung perjalanan nanti, yang ditanya bukan berapa followers, tapi berapa amal.

Yang ditanya bukan seberapa terkenal, tapi seberapa jujur.

Milad ke-53 bukan tentang saya bertambah tua. Ini tentang saya semakin dekat dengan pertemuan yang paling agung.

Semoga ketika tanggal kematian itu benar-benar tiba, ia tidak datang sebagai tamu yang menakutkan, tapi sebagai undangan pulang.

Pulang bukan dalam keadaan malu,

tapi dalam keadaan diterima.

Dan kalau hari ini masih diberi napas, berarti Allah masih memberi kesempatan. Bukan untuk sombong. Bukan untuk menunda taubat. Tapi untuk memperbaiki.

Selamat ulang tahun untuk diri sendiri.

Bukan selamat bertambah usia,

tapi selamat mengurangi dosa.

Semoga 53 ini bukan sekadar angka.

Semoga ia menjadi titik balik.

Karena sejatinya, yang sedang kita jalani bukan perjalanan menuju tua.

Kita sedang berjalan menuju akhir.

Dan semoga akhir itu indah.

Amiin Yaa Rabbal Aalamiin 

Manggarupi, 17 Peb 2026