Isra’ Mi’raj Rasulullah: Perjalanan Suci Penuh Hikmah
Shamsi Ali Al-Nuyorki*
Minuman Sus vs Khamar
Ketika berada di area masjid Al-Aqsa, Jibril kemudian mendatangi dan menawarkan kepada Rasulullah SAW dengan dua buah minuman yang berbeda bahkan kontras. Satu gelas berisikan minuman beralkohol (khamar). Dan satunya lagi berisikan minuman susu (laban) yang segar. Jibril menawarkan kepada Rasulullah SAW untuk memilih salah susu atau khamar. Rasulullah dengan sigap mengambil gelas atau mangkok yang berisikan susu (laban) dan meminumnya.
Pilihan Rasulullah ini mendapat pujian dari Jibril sebagai pilihan “fitrah” (laqad ikhtarta al-fitrah). Pilihan yang menggambarkan bukan sekedar karena dasar kemurnian dan kesehatan. Tapi lebih dari itu, pilihan Rasulullah menggambarkan suasana batin dan sikap jiwa yang fitrah (suci/bersih). Pastinya hal ini tidak lepas dari proses yang terjadi di Masjidil Haram sebelumnya, di mana dada beliau dibuka, dibersihkan dengan air zamzam dan diisi dengan keimanan.
Perlu diingat bahwa ketika itu khamar (alkohol) belum diharamkan. Belum ada hal mu’amalat yang disyariatkan bagi Rasulullah SAW pada fase Mekah. Namun Rasulullah menghindari khamar dan memilih meminum susu. Sebuah penggambaran yang jelas bahwa ketika seseorang memiliki hati yang bersih dan sehat, maka pilihan-pilihan hidupnya akan bersih dan sehat (sesuai fitrah). Ini pula yang meyakinkan kita bahwa antara fitrah kemanusiaan dan agama Islam itu sejalan dan senyawa. Hal yang baik dan benar secara agama pastinya akan diterima pula sebagai sesuatu yang benar dan baik oleh fitrah manusia.
Karenanya tawaran Jibril kepada baginda Rasul untuk memilih antara khamar dan susu itu merupakan penggambaran realita kehidupan manusia. Bahwa kehidupan manusia itu menawarkan pilihan (choices). Menawarkan hal yang benar (al-haq) atau salah (bathil), menawarkan yang baik (thoyyib) atau buruk (khobits), dan menawarkan yang bermanfaat (beneficial) atau yang membawa kemudhoratan (harmful).
Maka manusia dalam hidupnya itu sesungguhnya menghadapi pilihan-pilihan itu. Islam datang dengan tawaran terbuka kepada manusia: “man syaa fal yu’min wa man syaa fal yakfur. Siapa yang mau beriman silahkan, tapi siapa yang kafir juga silahkan. Manusia bisa memilih berdasarkan kebebasan dasar (hurriyah) yang telah diberikan kepadanya. Sekaligus sebagai bagian dari kemuliaannya (karomah) sebagai makhluk Allah yang terbaik (ahsanu taqwiim).
Sebagaimana telah disebutkan terdahulu, dalam menentukan pilihan hidupnya manusia memerlukan hati yang bersih (fitrah). Dalam banyak rujukan keagamaan, baik Al-Quran maupun Al-Hadits, Islam mengingatkan pentingnya memelihara hati. Memelihara kefitrahan jiwa agar manusia dalam langkah-langkah kehidupannya tidak keluar dari kefitrahannya. “Beruntunglah dia yang mensucikan” (Al-a’laa). “Beruntunglah siapa yang mensucikannya. Dan rugilah siapa yang mengotorinya” (As-Syams).
Namun sungguh mengerikan, kenyataannya hidup manusia masa kini mengalami kerusakan yang parah yang disebabkan fitrah manusia yang mengalami pengrusakan. Kerusakan fitrah itulah menjadikan manusia melakukan pilihan-pilihan hidup yang paradoksikal dengan hati nurani dan kepentingan hidupnya. Kerusakan fitrah manusia menjadikannya tidak lagi malu-malu untuk melakukan hal-hal yang hewanpun tidak akan/mau lakukan.
Kerusakan fitrah manusia membawa akibat kerusakan (fasaad) dalam kehidupan nyata. Surah Ar-Rum menyampaikan: “Kerusakan telah nampak di darat dan di laut akibat perbuatan manusia”. Dari kerusakan lingkungan, peperangan dan pertumpahan darah, kemiskinan akibat pemiskinan, hingga ambruknya nilai-nilai sosial. Rasulullah sejak dahulu mengingatkan: “sungguh dalam tubuh manusia ada segumpal darah, yang jika baik akan baik seluruh perbuatannya. Tapi jika rusak akan rusak semua perbuatannya. Sungguh, itulah hati”.
Upaya memperbaiki dunia saat ini tidak mungkin bisa dilakukan kecuali jika kita sadar akan pentingnya menjaga hati. Jagalah hati karena hati adalah sumber segala hal, sumber kebaikan atau sumber kejahatan. Maka selalulah pilih susu dan jangan sekali-kali memilih khamar dalam hidup.
Perjalanan Vertikal Dimulai
Setelah selesai sholat berjamaah, Jibril memberitahu Rasulullah jika langit telah dibuka dan mereka segera melakukan perjalanan vertikal yang disebut Mi’raj. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan Mi’raj dengan mengendarai Al-Buraq yang disebutkan terdahulu. Namun sebagian riwayat lain menyebutkan bahwa beliau tidak memakai Buraq dalam perjalanan ke atas itu. Beliau diangkat oleh Jibril dengan tangannya. Sementara Buraq itu tetap terikat di tempat semula.
Menurut riwayat-riwayat yang ada, pada setiap langit itu ada penjaganya (haaris/guard) dari kalangan malaikat. Ketika sampai di langit pertama sang penjaga langit bertanya: “siapa gerangan?”. Jibril menjawab: “ini Jibril”. Sang penjaga bertanya lagi: “siapa bersamamu?”. Jibril menjawab: “bersama saya Muhammad Rasulullah”.
Dialog seperti ini terjadi di setiap langit yang akan dilaluinya. Memberi pelajaran penting bagi umat bahwa dalam melakukan tugas dan tanggung jawab diperlukan profesionalitas. Jibril adalah malaikat teragung di antara semua malaikat. Beliau tentu punya hak dan mampu untuk akses ke semua tingkatan langit. Tapi beliau tetap menghormati para malaikat yang memiliki otoritas dan tanggung jawab untuk menjaga setiap langit yang akan dilaluinya.
Dalam kebiasaan sebagian orang sikap dan perlakuan keseharian seringkali tidak mempertimbangkan profesionalitas. Hanya karena atasan di sebuah kantor lalu tidak lagi menghiraukan otoritas bawahan, bahkan penjaga pintu sekalipun. Tendensi tidak menghiraukan ini seringkali terjadi karena sifat keangkuhan kekuasaan. Runyamnya lagi kalau sikap itu berimbas kepada tendensi menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi yang umumnya berakibat terjadinya korupsi.
Kembali ke dialog antara Jibril dan penjaga langit tadi. Mendengar bahwa Jibril dan Muhammad SAW akan menaiki langit itu penjaga langit mempersilahkan: “Selamat datang Wahai nabi yang soleh”. Jibril bersama Muhammad pun memasuki langit pertama.
Di langit pertama Rasulullah SAW bertemu dengan Bapak semua manusia (Abu al-basyar) sekaligus manusia dan nabi pertama, Adam AS. Adam nampak duduk dengan tenang. Beliau nampak tua dan lelah menggambarkan seorang kakek. Jibril mengenalkan Rasulullah kepada Adam lalu mengarahkan Rasulullah untuk memberi salam. Rasulullah SAW pun memberikan salam kepada beliau dan direspon olehnya: “ahlan bi an-nabi wa al-ibni as-solih” (Selamat datang kepada nabi dan anak yang saleh).
Tangisan dan Senyuman Adam AS
Tidak disebutkan jika ada pembicaraan khusus yang terjadi antara Adam AS dan Muhammad SAW. Hanya saja Rasulullah menyaksikan sesuatu dari Adam yang menjadikan beliau bertanya kepada Jibril. Rasulullah melihat Adam beberapa kali menengok ke arah kanan dan ke arah kirinya. Jika menengok ke arah kanan beliau tersenyum. Tapi jika menengok ke arah kiri beliau nampak menangis.
Melihat itu Rasulullah bertanya kepada Jibril apa gerangan yang terjadi. Jibril menjawab bahwa ketika Adam menengok ke kanan beliau melihat semua anak cucunya yang ditakdirkan akan masuk syurga, maka beliau pun tersenyum. Tapi ketika menengok ke arah kiri beliau melihat anak cucunya yang ditakdirkan akan masuk ke dalam neraka, maka beliau pun menangis.
Cerita ini sungguh sebuah pelajaran yang maha penting bagi kita semua, khususnya bagi para orang tua. Adam mengajarkan kepada kita bahwa hal yang paling beliau perhatikan sebagai ayah dari semua manusia adalah keinginan beliau melihat semua anak cucunya masuk ke dalam syurga. Maka beliau tersenyum ketika melihat anak cucunya para calon penghuni syurga. Sebaliknya beliau sangat sedih bahkan menangis di saat melihat anak cucunya para calon penghuni neraka.
Sebagai orang tua, adakah perasaan itu pada kita? Adakah rasa senang dan bahagia di saat kita melihat sikap dan prilaku anak-anak kita yang menggambarkan sikap dan prilaku penghuni syurga. Sebaliknya adakah rasa khawatir dan sedih di saat melihat sikap dan prilaku anak-anak kita yang semakin menggambarkan sikap dan prilaku ahli neraka.
Mungkin kita tidak bisa melihat secara pasti sebagaimana Adam melihat secara pasti dengan pandangan spiritualnya. Tapi sikap dan prilaku kasat anak-anak kita menjadi pengingat bagi kita semua untuk membangun kesadaran itu. Senang dan bahagia dengan keislaman yang baik dari anak-anak kita. Sedih dan khawatir dengan realita anak-anak kita yang semakin jauh dari agama.
Perjalanan ke Langit Kedua dan Seterusnya
Perjalanan ke atas pun berlanjut ke langit kedua. Di sini beliau bertemu dengan dua nabi yang satu zaman. Yaitu nabi Isa dan nabi Yahya AS. Keduanya menyambut Muhammad dengan sambutan: “ahlan bi al-akh wa an an-nabi as-soleh” (selamat datang saudaraku, nabi yang soleh).
Lalu berlanjut ke langit ketiga dan bertemu dengan nabi Yusuf AS. Beliau disambut persis sama dengan penyambutan nabi Yahya dan Isa: “Selamat datang saudaraku, nabi yang soleh”. Riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah melihat nabi Yusuf itu sangat tampan, seolah memiliki setengah ketampanan dari seluruh manusia.
Perjalanan berlanjut ke langit keempat dan di sana ketemu dengan nabi Idris. Beliau disambut dengan sambutan yang sama: “Selamat datang Wahai saudaraku dan nabi yang soleh”.
Lalu menaiki langit kelima ketemu dengan nabi Harun, dan lanjut ke langit keenam dan di sana ketemu dengan nabi Musa AS. Kedua nabi ini juga menyambut dengan sambutan yang sama: “Selamat datang wahai saudaraku dan nabi yang soleh”.
Perjalan ke atas berlanjut dan tibalah di langit ke tujuh. Di tingkatan ini Rasulullah bertemu dengan nabi Ibrahim AS, ayah dari banyak nabi-nabi. Setelah Rasulullah menyampaikan salam, Ibrahim AS merespon dengan respon yang sama seperti Adam AS di langit pertama: “Selamat datang Wahai anakku dan nabi yang soleh”.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah melihat Ibrahim ini duduk bersandar ke dinding Baitul Makmur (Kiblat penghuni langit). Mungkin ini korelasi kemuliaan beliau sebagai nabi yang telah meninggikan fondasi Ka’bah, Kiblat penghuni dunia.
Sebagaimana disebutkan terdahulu, pertemuan Rasulullah dengan para nabi ini menunjukkan realita kesatuan nubuwah (kenabian) dan risalah (ajaran). Bahwa para nabi dan Rasul itu tidak dibeda-dibedakan (laa nufarriqu). Pertemuan ini juga memberikan penguatan bahwa kenabian dan kerasulan Muhammad tidak terpisahkan dari kenabian dan kerasulan para pendahulunya. Beliau adalah pelanjut dan hadir sebagai penutup kenabian (khatamun nabiyyin). Sekaligus menyimpulkan bahwa agama itu memang satu: “sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam”.
Ulama Islam menyampaikan bahwa posisi tingkatan pada nabi, dari tingkatan pertam, kedua dan hingga ketujuh, bukan penggambaran kemuliaan antara satu dan lainnya. Kita yakin pasti ada makna di balik dari itu. Tapi kita juga tidak bisa menyimpulkan jika itu adalah gambaran kemuliaan. Karena pastinya Isa AS harus di atas Idris dan Harun karena Isa adalah salah seorang dari nabi dengan posisi Ulul Azmi.
Tangisan Nabi Musa AS
Ada satu peristiwa yang menarik ketika Rasulullah berada di langit keenam dan bertemu nabi Musa. Disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW akan meninggalkannya, Rasulullah melihatnya menangis. Rasulullah bertanya kepada Jibril: “Apa gerangan Musa menangis?”. Jibril menjawab: “Musa sedih karena umat kamu lebih banyak dari umatnya. Tapi yang terpenting lagi, penghuni syurga dari umat kamu jauh lebih besar ketimbang umat Musa”.
Peristiwa tangisan Musa itu merupakan pelajaran penting bahwa para nabi itu berlomba-lomba dalam memperbanyak pengikut (untuk kebaikan, hidayah dan syurga). Mereka saling iri (positive jealousy) melihat yang lain lebih banyak yang berhasil mengajak ke jalan Allah dan masuk syurga. Itu yang menjadikan nabi Musa AS menangis dan bersedih membandingkan umatnya dan umat Muhammad SAW.
Rasulullah SAW Naik ke Sidratul Muntaha
Dari langit ke tujuh setelah berjumpa dengan Ibrahim AS, selanjutnya Rasulullah SAW melanjutkan Mi’raj (Perjalanan ke atas) ke “Sidratul Muntaha” (akhir dari segala akhir). Ada banyak penafsiran tentang Sidratul Muntaha ini. Masing-masing menggambarkan keindahan yang dahsyat dan kemaha kuasaan Allah SWT. Namun yang pasti Sidratul Muntaha merupakan destinasi tertinggi dalam perjalanan spiritulitas. Sebagian ahli tasawuf mendefenisikannya dengan situasi “al-fana” bersama kebesaran Allah SWT.
Ada perbedaan pendapat para ulama tentang apakah Jibril ikut ke atas melewati langit ketujuh dan hadir di Sidratul Muntaha atau tidak. Beberapa riwayat menyebutkan perjalanan ke atas memakai kata dalam format majhuul “tsumma ‘urija” (kemudian dinaikkan). Ekspresi ini dipahami oleh sebagian Ulama jika Jibril tidak membersamai Rasulullah naik ke Sidratul Muntaha. Hanya Rasulullah yang diperjalankan. Bahkan sebagian ada yang menambahkan cerita jika Jibril berkata kepada Rasulullah: “naiklah engkau Wahai Muhammad. Saya tidak lagi punya otoritas untuk melampaui ini (langit ketujuh)”.
Terlepas dari cerita ikut atau tidak ikutnya Jibril dalam perjalanan melewati langit ketujuh, Rasulullah dinaikkan hingga ke ketinggian puncak dari perjalanan itu. Di sana beliau melihat pepohonan dengan dedaunan yang sangat indah dan warna warni yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Sebagian riwayat menyebutkan dedaunan itu bagaikan telinga gajah, dan buah-buahnya bagaikan hajar aswad. Tentu penggambaran ini bersifat metaforik karena sifatnya yang di luar batas manusia memahaminya.
Rasulullah SAW kemudian mendengarkan suara Tuhan. Para Ulama sepakat bahwa Muhammad tidak melihat wujud fisik Tuhannya. Aisyiah RA bahkan mengatakan: “barangsiapa yang mengaku Rasulullah melihat Tuhan ketika Mi’raj maka sungguh telah berbohong”.
Tapi yang pasti beliau mendengar suara Tuhan menyampaikan tiga hal kepadanya:
Allah Subhanah menyampaikan dan meyakinkan bahwa setiap umat Muhammad yang beriman kepada Laa ilaaha illallah-Muhammad Rasulullah dan meninggal tanpa ada kesyirikan dijamin masuk syurga.
Allah menyampaikan “khawaatim Al-Baqarah” atau dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah.
Dan yang paling masyhur adalah perintah kepada Rasulullah dan umatnya untuk melaksanakan Sholat fardhu sebanyak 50 kali sehari semalam.
Ada beberapa cerita yang menyampaikan bahwa ketika Rasulullah berada di Sidratul Muntaha itu terjadi dialog seperti yang dibaca ketika tasyahhud. Rasulullah memberikan salam kepada Allah: “Attahiyatu lillahi wassolawatu wattoyyibatu “. Lalu Allah merespon: “Assalamu alaikum ayyuhan Nabi”… dan seterusnya.
Cerita di atas tidak memiliki rujukan keagamaan (religious references) yang jelas. Sehingga diterima sebagai cerita “qiila wa qaala” yang tersebar lalu menjadi masyhur dan dianggap bagian dari cerita yang berbasis agama. Sayangnya banyak pula penceramah menyampaikan ceramah tanpa rujukan yang jelas dari Al-Quran dan Sunnah. Apalagi di zaman di mana penceramah-penceramah agama digandrungi karena keartisannya (popularitasnya di media sosial).
Usulan Musa kepada Rasulullah SAW
Setelah menerima tiga hal di atas, Rasulullah kemudian turun bertemu dengan Jibril di langit ketujuh tempat di mana Ibrahim AS bermukim. Jibril dan Muhammad melewati langit ketujuh tanpa ada percakapan dengan Ibrahim AS.
Namun ketika turun ke langit keenam di mana Musa AS bermukim, Rasulullah ditanya oleh Nabi Musa: “Wahai Muhammad, apa yang diperintahkan Tuhan?”. Rasulullah SAW menjawab: “Allah memerintahkan kepadaku dan umatku 50 kali Sholat sehari semalam”. Mendengar itu Musa mengatakan: “kembalilah kepada Tuhan dan minta keringanan. Karena ummatku (secara fisik) lebih kuat dari umatmu tapi mereka tidak mampu melaksanakan sebanyak itu”.
Mendengar usulan Musa AS itu, Rasulullah tidak langsung menerima dan melaksanakannya. Justeru beliau menengok ke Jibril seolah meminta pendapat (second opinion). Jibril
Kemudian mengangguk menyetujui usulan Musa AS. Rasulullah pun naik kembali ke Sidratul Muntaha dan meminta keringanan jumlah sholat yang harus ditunaikan. Allah menyetujui pengurangan jumlah dari 50 ke 40. Namun ketika turun ke Musa beliau masih menyuruhnya agar meminta keringanan lagi. Singkat cerita Rasulullah beberapa kali bolak balik dari 40 ke 30 lalu 20 dan akhirnya 5 kali Sholat sehari semalam.
Ketika Musa bertanya berapa jumlah kewajiban sholat sehari semalam dan Rasulullah menyampaikan kalau beliau diperintahkan Sholat 5 kali sehari semalam, Musa masih menganjurkan beliau untuk kembali meminta keringanan. Namun Rasulullah SAW menolak dengan mengatakan: “Saya malu kepada Tuhanku”.
Sholat lima kali tapi pahala untuk lima puluh kali
Di saat terjadi dialog antara Musa dan Muhammad itu tiba-tiba terdengar suara yang berseru (fanaada munaadin): “Aku mewajibkan kamu Sholat 5 waktu. Namun keputusan Aku lima puluh tidak lagi berubah. Karenanya sholatlah 5 waktu. Namun pahalaKu tetap 50 kali.” Jumlah kewajiban dikurangi menjadi 5 kali. Namun pahala awal 50 kali tetap diberikan oleh Allah SWT. Betapa maha Rahman dan maha baiknya Allah SWT.
Kenapa Ibrahim tidak menanyakan Rasulullah?
Pertanyaan yang kemudian timbul adalah kenapa ketika melewati langit ketujuh Ibtahim AS tidak bertanya tentang apa yang diperintahkan oleh Allah kepada Rasulullah? Dan kenapa Musa?
Ada beberapa argumen yang bisa disampaikan dalam hal ini:
Satu, Ibrahim dan Musa adalah dua nabi yang agung dari kalangan ulul azmi. Tapi keduanya memiliki kepribadian yang berbeda. Ibrahim cenderung menerima dan tidak pernah mempertanyakan apapun yang diperintahkan Allah padanya. Sementara Musa memiliki tingkat kuriositas yang sangat tinggi. Mungkin kita masih ingat kisah Musa dan Khaidir.
Dua, Musa pernah mengalami audiensi dengan Allah ketika menerima wahyu di bukit Sinai. Sehingga pengalaman ini mendorong beliau untuk bertanya. Ibrahim AS adalah khalilullah (kekasih Allah). Tapi tidak pernah secara langsung beraudiensi dengan Tuhan.
Tiga, Musa pengalaman menghadapi umat dengan jumlah besar. Sehingga pertimbangannya selalu merujuk kepada umatnya. Demikian juga Muhamad SAW yang dalam pengambilan keputusan selalu mempertimbangkan umatnya. Bukankah Ketika beliau akan meninggal dunia beliau memanggil-manggil umatnya: ummati, ummati ummati!”.
Sholat Adalah Karunia Besar
Sebelum mengakhiri catatan ini saya ingin mengingatkan kita semua bahwa dari sekian banyak hikmah perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW, sholatlah yang menjadi tema sentra dari semuanya. Jika ini dikembalikan kepada konteks latar belakang perjalanan Isra Mi’raj tentang tantangan dan kesulitan yang dihadapi ketika itu, maka dapat dikatakan Sholat sesungguhnya diberikan sebagai kunci pintu keluar dari berbagai tantangan dan kesulitan.
Untuk umat ini Sholat adalah Mi’raj. Perjalan vertikal bagi mereka secara ruhiyah bertemu Tuhan untuk menyampaikan keluh kesah dan harapan. Sholat merupakan tiang agama, pembeda antara keimanan dan kekafiran, dan penentu diterima atau ditolaknya amalan kita di Akhirat nanti.
Seringkali terbetik pertanyaan di kepala, kenapa harus Sholat bahkan lima kali sehari semalam? Sesungguhnya jika dipikirkan lebih dalam bukan beban. Sebaliknya justeru keberkahan yang luar biasa. Singkatnya, jika umat-umat lain ingin berkomunikasi dan meminta sesuatu kepada Tuhan, unumnya melalui para nabi. Bani Israil misalnya setiap permintaannya selalu melalui Nabi Musa. Misalnya “ud’u lanaa Rabbaka”. Tapi umat ini memiliki kelebihan yang luar biasa. Memungkinkan berkomunikais langsung dengan Allah. Dan medium (jalan) yang paling efektif adalah melalui Sholat. Maka Sholat bagi orang beriman itu adalah “mi’raj”.
Semoga kita semua mampu menjaga kewajiban Sholat kita. Sekaligus mampu mengajarkan Sholat kepada anak dan generasi kita. Karena Al-Quran mengingatkan bahwa kehancuran generasi itu salah satunya karena “mereka meninggalkan Sholat”(adho’us Sholawat).
Mengelilingi Syurga dan Neraka
Setelah selesai tujuan terutama dari Isra’ Mi’raj menemu