Sujud: Titik Terendah Dalam Mengangkat Derajat

Sujud: Titik Terendah Dalam Mengangkat Derajat

Ashar Tamanggong 

(Pembimbing Haji Patria Wisata)

Dalam seluruh rangkaian sholat, ada satu posisi yang paling rendah secara fisik, tapi paling tinggi nilainya secara spiritual: sujud. Kepala—bagian tubuh yang paling kita jaga kehormatannya—diletakkan di lantai. Dahi menempel tanah. Tidak ada posisi yang lebih rendah dari ini. Dan justru di titik itulah, manusia paling dekat dengan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud.” Menarik, bukan? 

Bukan saat berdiri tegak, bukan saat berbicara panjang, tapi saat benar-benar merendah.

Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa kedekatan sejati dengan Allah tidak selalu berarti naik secara fisik, tapi turun secara batin. Nabi ﷺ naik ke langit, tapi dengan membawa sifat kehambaan yang paling dalam. Dan sholat meniru itu lewat sujud.

Banyak orang ingin diangkat derajatnya, tapi enggan merendahkan diri. Ingin dihormati, tapi sulit menghormati. Ingin doanya cepat dikabulkan, tapi malas bersujud lama. Padahal Allah sudah memberi rumus sederhana: siapa yang mau rendah di hadapan-Ku, akan Ku-tinggikan derajatnya.

Dalam sujud, semua sama. Tidak ada perbedaan status. Dahi pejabat dan dahi rakyat sama-sama menyentuh lantai. Gelar tertinggal di luar sajadah. Jabatan tidak ikut sujud. Yang ikut hanya hamba dan dosanya.

Lucunya, ada orang yang badannya sudah sujud, tapi egonya masih berdiri. Dahi menyentuh lantai, tapi hati masih merasa paling benar. Mulut bertasbih, tapi pikiran masih menghakimi orang lain. Ini sujud versi fisik, belum sampai ke sujud versi batin.

Padahal bacaan sujud jelas:

Subhaana rabbiyal a‘laa.

“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.”

Perhatikan paradoksnya. Saat posisi kita paling rendah, justru kita memuji Allah sebagai Yang Maha Tinggi. Ini pelajaran hidup yang dalam: semakin kita merendah, semakin jelas keagungan Allah.

Sujud juga ruang kejujuran. Tidak ada topeng. Tidak ada pencitraan. Di posisi ini, susah berpura-pura. Maka para ulama menganjurkan memperbanyak doa di sujud. Karena di situlah hati paling lunak, paling jujur, paling siap menangis kalau perlu.

Sayangnya, banyak dari kita sujud seperti numpang lewat. Baru turun, sudah ingin bangkit. Padahal mungkin di sujud itulah Allah menunggu kita bercerita.

Isra’ Mi’raj memberi pesan kuat: sholat bukan sekadar kewajiban, tapi jalur kedekatan. Dan sujud adalah pintu terdekatnya. Tidak perlu naik ke langit, cukup turun ke sajadah dengan hati yang benar.

Sujud juga mengajarkan kepasrahan total. Kita meletakkan titik pusat hidup—kepala—ke tanah. Seolah berkata, “Ya Allah, aku serahkan kendali ini kepada-Mu.” Tapi sering kali setelah salam, kita ambil lagi kendali itu, lalu stres sendiri.

Kalau saja nilai sujud kita bawa ke luar sholat, mungkin hidup akan lebih ringan. Tidak semua harus kita atur. Tidak semua harus kita menangkan. Ada Allah yang Maha Tinggi.

Dalam sejarah Isra’ Mi’raj, Nabi ﷺ menerima perintah sholat langsung dari Allah. Dan inti sholat itu bukan bacaan panjang, bukan gerakan indah, tapi sujud yang tulus. Bahkan para sahabat memahami bahwa banyaknya sujud adalah tanda kedekatan.

Maka jangan heran, orang yang rajin sujud biasanya lebih tenang. Bukan karena hidupnya tanpa masalah, tapi karena ia tahu ke mana harus meletakkan beban.

Lain kali saat sujud, jangan terburu-buru. Diam sebentar. Biarkan dahi menyentuh bumi lebih lama. Bisikkan apa yang tidak bisa kita ceritakan kepada siapa pun. Karena di titik terendah itulah, doa paling mudah naik.

Serial Isra’ Mi’raj ini ingin menegaskan satu hal penting:

jalan ke langit dibuka lewat sujud.

Dan siapa yang benar-benar memahami sujud, tidak akan terlalu takut direndahkan dunia. Karena ia tahu, Allah justru meninggikan hamba-Nya saat ia bersedia merendah di hadapan-Nya.

Wallahu A'lam