Tahyat:Etika Duduk di Hadapan Raja Semesta
Ashar Tamanggong
Pembimbing Haji Patria Wisata
Setelah rangkaian gerakan yang penuh dinamika—berdiri, rukuk, sujud, duduk—sholat membawa kita ke satu posisi yang tenang dan khidmat: tahiyat. Di sinilah gerak mulai melambat, suara mengecil, dan jiwa diajak duduk dengan penuh adab. Kalau sholat itu perjalanan Isra’ Mi’raj versi harian, maka tahiyat adalah ruang audiensi resmi.
Dalam tahiyat, kita duduk. Bukan duduk sembarangan, tapi duduk dengan tata cara. Ada posisi kaki, ada sikap tangan, ada telunjuk yang bergerak. Semua diatur. Ini isyarat halus bahwa menghadap Allah butuh etika.
Kalimat pertama tahiyat langsung mengangkat kita ke peristiwa besar Isra’ Mi’raj:
“At-tahiyyaatu lillaahi wash-shalawaatu wath-thayyibaat.”
Segala penghormatan, doa, dan kebaikan hanya milik Allah.
Ini bukan pujian biasa.
Ini pernyataan bahwa semua bentuk hormat tertinggi tidak layak diberikan kecuali kepada Allah. Bukan kepada jabatan. Bukan kepada kekuasaan. Bukan kepada popularitas. Semua itu relatif. Yang absolut hanya Allah.
Lalu kita mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ:
“Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh.”
Perhatikan, kita berbicara seolah Nabi hadir. Ini bukan basa-basi. Ini pengakuan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah penghubung risalah, pemimpin para nabi, dan teladan hidup. Dalam Isra’ Mi’raj, beliaulah yang memimpin sholat para nabi. Dan di tahiyat, kita mengulang kembali penghormatan itu.
Tapi menariknya, tahiyat tidak berhenti pada Nabi. Kita lanjutkan:
“Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin.”
Salam untuk kami dan seluruh hamba Allah yang saleh.
Ini pelajaran sosial yang luar biasa. Di tengah ibadah paling personal, Islam mengajarkan kita tidak lupa umat. Kita tidak sholat sendirian. Kita terhubung dengan komunitas iman lintas zaman.
Kalau tahiyat ini benar-benar diresapi, seharusnya kita sulit merasa paling saleh sendiri. Karena dalam satu kalimat, kita mengakui keberadaan hamba-hamba Allah lain yang saleh, mungkin jauh lebih baik dari kita.
Tahiyat juga berisi syahadat. Pengakuan iman. Di saat tubuh lelah, setelah semua gerakan, kita diminta menegaskan ulang identitas: siapa Tuhan kita, siapa teladan kita. Ini seperti penutup kontrak.
Dan posisi duduk tahiyat mengajarkan ketenangan. Setelah sujud yang penuh emosi, tahiyat menenangkan. Setelah doa panjang, tahiyat menertibkan. Seolah sholat berkata, “Sekarang duduklah dengan tenang. Tata ulang hatimu.”
Dalam konteks Isra’ Mi’raj, tahiyat adalah refleksi dari adab Nabi ﷺ di hadapan Allah. Tidak tergesa. Tidak berlebihan. Penuh penghormatan.
Sayangnya, banyak dari kita membaca tahiyat seperti mengejar waktu. Telunjuk bergerak otomatis, mulut komat-kamit, hati sudah siap salam. Padahal di sinilah kita sedang duduk di hadapan Raja semesta.
Kalau saja etika tahiyat dibawa ke hidup sehari-hari, mungkin cara kita berinteraksi akan lebih santun. Lebih teratur. Lebih menghargai orang lain. Karena sholat bukan hanya melatih hubungan vertikal, tapi juga membentuk karakter sosial.
Serial Isra’ Mi’raj ini ingin mengingatkan: sholat bukan sekadar rangkaian gerak, tapi pendidikan adab. Dan tahiyat adalah kelas etikanya.
Maka lain kali saat tahiyat, jangan terburu-buru. Duduklah dengan penuh kesadaran. Resapi setiap salam. Rasakan kehormatan berada di hadapan Allah.
Karena siapa yang belajar duduk dengan adab di hadapan Rabb-nya, biasanya akan lebih tahu cara berdiri dengan akhlak di hadapan manusia.
Dan di situlah tahiyat menemukan maknanya—etika hamba saat berada di hadapan Raja segala raja.
Wallahu A'lam