Mendidik Anak Di Zaman Serba Instan

Mendidik Anak Di Zaman Serba Instan

Ashar Tamanggong 

Ketua Baznas Makassar

Orang Makassar bilang, “kalau mau cepat, jangan di kampung.” Tapi anehnya, hari ini justru di kampung pun semua ingin cepat. Mau makan cepat, mau pintar cepat, mau sukses cepat. Anak juga ditarget cepat. Baru bisa jalan sedikit, sudah ditanya, “Nak, nanti besar mau jadi apa?” Padahal jalan saja masih zig-zag, kayak motor masuk lorong sempit.

Zaman ini memang zaman instan. Indomie tinggal tiga menit. Kopi tinggal seduh. Bahkan ilmu agama pun sekarang ada versi ringkasnya. Sayangnya, mendidik anak tidak pernah tersedia versi instan. Tidak ada aplikasi “Anakku Saleh dalam 7 Hari”. Kalau ada, pasti server-nya sering error.

Mendidik anak itu proses panjang. Orang Bugis biasa bilang, “taro ada taro gau’”, orang Makassar bilang "Sekre Kana Sekre Panggaukang", ada ucapan, ada perbuatan. Anak tidak tumbuh dari nasihat panjang lebar, tapi dari contoh sehari-hari. Percuma kita ceramah soal adab, kalau di rumah suara orang tua lebih keras dari speaker masjid.

Allah SWT berfirman:

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.”

(QS. Thaha: 132)

Perhatikan, bukan cuma perintahkan, tapi bersabar. Artinya, kalau anak disuruh shalat masih tarik selimut, jangan langsung ceramah satu juz. Bangunkan pelan-pelan. Kalau perlu, panggil pakai logat Makassar, “Nak… subuhmi ini, bukan jam makan coto.”

Masalah orang tua hari ini bukan kurang sayang, tapi salah menyalurkan sayang. Anak nangis dikasih HP. Anak rewel dikasih YouTube. Anak diam, orang tua tenang. Padahal itu bukan mendidik, itu namanya menyuap dengan sinyal WiFi.

Lucunya, kita sering marah karena anak kecanduan HP. Padahal orang tuanya juga begitu. Anak bilang, “Ma, lihatka dulu.” Orang tua jawab, “Tunggumi dulu, mama lagi penting.” Pentingnya scroll tidak jelas. Ini namanya bukan anak meniru orang tua, tapi orang tua mendidik tanpa sadar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Anak itu amanah. Bukan cuma dititipkan makan dan sekolahnya, tapi juga akhlaknya. Jangan sampai kita sibuk ajari anak matematika, tapi lupa ajari adab. Sibuk les ini itu, tapi lupa ajari minta maaf dan terima kasih. Anak pintar tapi kasar, itu bukan prestasi, itu alarm bahaya.

Di Makassar, orang tua dulu mendidik dengan sederhana tapi dalam. Anak disuruh sopan bukan pakai teori, tapi pakai contoh. Ketemu orang tua, otomatis menunduk. Lewat di depan orang, bilang “tabe’.” Itu pendidikan karakter tanpa seminar.

Sekarang, kita sering ingin hasil cepat. Anak sedikit salah, langsung dibandingkan: “Itu anaknya tetangga, rajin sekali.” Hati-hati, membandingkan anak seperti itu sama dengan membandingkan pallubasa dan coto—sama-sama enak, tapi beda isi. Jangan paksa semua anak sama jalannya.

Allah SWT mengingatkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

(QS. At-Tahrim: 6)

Peliharalah, bukan serahkan sepenuhnya. Sekolah penting, guru penting, ustadz penting, tapi rumah tetap madrasah pertama. Kalau di rumah anak lihat orang tua marah terus, jangan heran kalau di luar dia juga keras. Anak itu bukan fotokopi tetangga, dia fotokopi rumahnya sendiri.

Mendidik anak di zaman instan itu capek. Tapi pepatah bugis bilang, “resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata.” Usaha sungguh-sungguh, di situlah rahmat Allah turun. Capek mendidik anak bukan capek sia-sia. Itu capek yang dicatat sebagai ibadah.

Kalau hari ini anak belum sesuai harapan, jangan cepat mengeluh. Bisa jadi Allah sedang menguji kesabaran orang tuanya dulu. Jangan minta anak berubah, kalau orang tuanya belum mau berubah.

Sebab mendidik anak itu bukan lomba cepat-cepatan. Ini perjalanan panjang. Tidak instan, tapi berkesan. Tidak viral, tapi bernilai. Dan kalau dilakukan dengan sabar, doa, dan teladan—insya Allah hasilnya bukan cuma anak pintar, tapi anak beradab.

Dan bagi orang Makassar, itu baru namanya anak tau siri’, tau malu, tau adab, tau Tuhan.

Wassalam 

Manggarupi, 8 Jan 2026