Teguh di Aqeedah, tapi Flexible di Mu'alat
Imam Shamsi Ali*
Dilaporkan oleh Ibnu Abbas (RA) bahwa orang-orang Roma menangkap Abdullah bin Huzaifa (RA), seorang sahabah (sahabat) Nabi (s.a.w). Raja tiran Roma mengancamnya: "Berubahlah ke Kristen atau aku akan melemparkanmu ke dalam kuali minyak mendidih! "". Abdullah menjawab: "Aku tidak akan! "". Raja memerintahkan minyak itu memanaskan, memanggil seorang Muslim yang ditangkap, dan mencoba membujuknya untuk memeluk agama Kristen.
Tapi dia menolak. Raja melemparkannya ke dalam kuali. Tulangnya melayang ke permukaan. Raja kemudian berpaling kepada Abdullah dan berkata: “Sekarang kamu memeluk agama atau aku akan melakukan hal yang sama kepadamu”. Abdullah menjawab: “Aku tidak akan! "".
Raja memerintahkan anak buahnya untuk membawa Abdullah pergi. Saat mereka membawanya pergi, Abdullah menangis. Raja memanggilnya kembali. Dia pikir Abdullah menangis karena ketakutan. Abdullah berkata: “Janganlah mengira aku menangis karena ketakutan. Demi Allah, aku menangis karena hidupku hanya satu. Seandainya aku punya seratus nyawa agar aku mati lagi dan lagi di jalan Allah”.
Raja terkesan dengan keberaniannya, sehingga ia mengubah pendekatannya: “Berubahlah ke Kristen dan kamu bisa menikahi putriku, juga aku akan memberimu setengah dari kerajaanku”. Abdullah berkata: "Aku tidak akan". Raja kemudian berkata: “Cium kepalaku dan aku akan membebaskan delapan puluh Muslim bersamamu”. Abdullah menjawab: “Jika itu satu-satunya syarat, ya saya akan melakukannya”. Dia kemudian mencium kepala raja, dan raja membebaskannya bersama dengan delapan puluh Muslim.
Ketika ia dan para muslim lainnya tiba kembali ke Madinah, Umar bin al-Khattab bangkit menyapa mereka, dan menyatakan: “Setiap muslim harus mencium kepala Abdullah, dan aku akan menjadi orang pertama yang mencium kepalanya”. Umar melakukannya, diikuti oleh orang-orang beriman lainnya yang hadir.
Kisah seorang Sahabah yang indah ini mengajarkan kita bahwa kehormatan seorang Muslim hanya milik penciptanya. Hidup berakhir dengan kematian pasti, apa pun bentuknya. Hanya ada satu kehidupan dan satu kematian. Jangan menukar martabatmu untuk bertahan hidup atau dengan harga yang lebih murah (materi duniawi). Umur kita sudah diperbaiki sebelum lahir, “pennya sudah diangkat, halamannya sudah kering” (Hadis).
Ya dalam hal duniawi, kita mungkin bisa beradaptasi. Kita dapat mencoba hal-hal berulang kali dan mengubah pendekatan kita jika kita belum berhasil. Bersikaplah lembut, karena kelembutan dapat mencapai apa yang tidak bisa dilakukan oleh kekuatan. Membawa belas kasih untuk semua Muslim dan non Muslim sama. Mari menjadi hiasan di antara orang-orang, berpegang teguh pada impian kita sampai nafas terakhir, dan terus berusaha untuk keunggulan dan kesuksesan.
Sebaliknya, dalam hal iman, jadilah seperti gunung, tak tergoyahkan, apapun keadaannya, karena esok belum tentu memberimu kesempatan untuk bangkit. Perjalanan meninggalkan prinsip dimulai dengan satu langkah; segera Anda menemukan diri Anda berubah, bukan seperti Anda.
Sejarah tidak mengingat keraguan, tetapi mengabadikan mereka yang menggenggam keyakinan mereka. Kami ingat Mashitoh, penata rambut putri Fir'aun, tabah seperti gunung. Hal ini juga mengingatkan kita Bilal bin Rabah (RA) yang tangisannya: “Ahad, Ahad! ” bergema di hadapan tuannya, Umayya bin Khalaf.
Semoga Allah terus membimbing dan menguatkan kita di jalan-Nya. Amin!
*Direktur Jamaika Muslim Center & Presiden Yayasan Nusantara