Datang Sebagai Tamu Bukan Turis

Datang Sebagai Tamu Bukan Turis

Ashar Tamanggong 

Pembimbing Haji Patria Wisata 

Pesawat mendarat. Kaki menjejak tanah Jeddah. Hati ikut turun—pelan-pelan—dari langit angan ke bumi kesadaran. Selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju Madinah. 

Ini bukan kota biasa. Kota yang namanya saja sudah bikin dada menghangat, meski AC Bus dingin maksimal.

Banyak orang datang ke Madinah dengan koper besar. Tapi tidak semua datang dengan hati yang siap dibuka. Ada yang niatnya ibadah, ada yang niatnya foto, ada pula yang niatnya dua-duanya. Tidak salah foto. Yang salah itu kalau ibadahnya cuma jadi latar belakang swafoto.

Madinah mengajarkan satu hal sejak langkah pertama: kita ini tamu, bukan turis.

Turis datang membawa agenda.

Tamu datang membawa adab.

Turis sibuk bertanya, “Spot terbaik di mana?”

Tamu sibuk bertanya, “Apa yang harus aku perbaiki?”

Di kota ini, Rasulullah ﷺ tidak menunggu kita. Kita yang datang menghadap beliau. Maka yang paling pantas dibawa bukan kamera canggih, tapi rasa malu. Malu karena datang dengan dosa yang panjang, tapi harapan pengampunan yang sering pendek.

Masjid Nabawi berdiri megah, tapi yang paling megah seharusnya kerendahan hati kita. Sayangnya, banyak yang masuk masjid dengan sandal di tangan, tapi egonya masih di kepala. Sandal dititip, kesombongan dibawa masuk.

Padahal Madinah itu lembut. Kalau kita keras, yang pecah bukan lantainya—tapi hati kita sendiri.

Hari pertama biasanya dihabiskan dengan penyesuaian. Jet lag, kata orang. Tapi sejatinya bukan cuma badan yang perlu disesuaikan, niat juga perlu diselaraskan. Jangan sampai badan sudah sampai Madinah, tapi niat masih tertinggal di rumah.

Ada yang langsung hitung:

“Target saya berapa kali shalat di Nabawi?”

Bagus. Tapi coba tambahkan satu hitungan lagi:

“Target saya berapa kali shalat yang benar-benar khusyuk?”

Sebab shalat di Madinah itu bukan soal banyaknya rakaat, tapi dalamnya rasa hormat. Kita berdiri di masjid yang dulu lantainya pasir, tiangnya batang kurma, tapi langitnya langsung ke Arsy Allah. Sekarang lantainya marmer, payungnya otomatis, tapi langitnya tetap sama. Pertanyaannya: iman kita ikut naik atau malah tetap merangkak?

Madinah juga mengajarkan tentang tempo. Di sini, semuanya terasa lebih pelan. Jalan pelan. Bicara pelan. Marah? Jangan. Kota ini alergi dengan emosi meledak-ledak. Kalau kita datang dengan hati panas, Madinah tidak ikut panas—kita yang akan kelelahan sendiri.

Ada yang heran, “Kenapa di Madinah rasanya tenang?”

Jawabannya sederhana: karena Rasulullah ﷺ membawa risalah rahmat, bukan risalah ribut. Kalau di Madinah kita masih mudah tersinggung, mudah menyalahkan, mudah merasa paling benar—mungkin yang belum sampai itu akhlak kita, bukan jarak tempuhnya.

Hari pertama ini bukan tentang ibadah berat. Ini tentang mengenali posisi diri. Kita ini siapa? Hamba. Bukan pejabat. Bukan tokoh. Bukan siapa-siapa. Di Madinah, semua titel dicopot. Yang laku cuma satu: ketulusan.

Lucunya, banyak yang di rumah susah bangun subuh, tapi di Madinah subuhnya rajin. Masalahnya bukan alarm, ternyata. Masalahnya hati. Di rumah, kita sering merasa Allah jauh. Di Madinah, Allah terasa dekat. Padahal Allah tidak pernah pindah. Yang sering pindah itu fokus kita.

Hari pertama ini juga hari belajar menahan diri. Menahan lisan. Menahan jari. Jangan semua diabadikan, tidak semua harus diumumkan. Ada momen yang cukup disimpan di hati, tidak perlu disetor ke media sosial. Sebab yang dinilai Allah bukan jumlah “like”, tapi kejujuran niat.

Madinah seakan berbisik pelan:

“Silakan masuk, tapi tinggalkan kesombonganmu di luar.”

“Silakan berdoa, tapi jangan lupa berubah.”

Karena datang ke Madinah itu mudah. Tiket bisa dibeli. Visa bisa diurus. Tapi pulang dari Madinah sebagai pribadi yang lebih baik—itu yang mahal.

Hari pertama belum banyak ibadah. Tapi kalau niat sudah lurus, adab sudah dijaga, hati sudah direndahkan—insyaAllah hari-hari berikutnya bukan sekadar rangkaian ritual, tapi perjalanan pulang menuju diri yang lebih jujur.

Selamat datang di Madinah.

Bukan kota untuk pamer ibadah.

Tapi kota untuk belajar menjadi hamba.

Madinah, 23 Jan 2026