Kalau Sudah Berihram, Bukalah Topengmu

Kalau Sudah Berihram, Bukalah Topengmu

Ashar Tamanggong 

Di Tanah Suci, semua orang seragam. Dua helai kain putih, tanpa jahitan, tanpa merek, tanpa status. Yang biasanya sibuk pamer jam, kini tak punya tempat menyelipkan gengsi. Yang terbiasa dipanggil “bos”, “profesor”, atau “yang terhormat”, mendadak dipanggil satu nama: jamaah. Pakaian ihram seolah berbisik pelan, “Buka topengmu.”

Ihram itu sederhana, tapi pesannya tidak main-main. Ia bukan sekadar pakaian ibadah; ia adalah alat bongkar. Membongkar ego, membongkar kepura-puraan, membongkar topeng sosial yang selama ini kita pakai rapi—bahkan kadang lebih rapi dari pakaian dinas. Di hadapan Ka’bah, semua topeng itu jatuh. Kalau masih nempel, berarti dilemnya kebangetan.

Lucunya, ada yang sudah pakai ihram, tapi topengnya tetap dibawa. Kain putihnya suci, tapi lisannya masih tajam. Langkahnya tawaf, tapi hatinya berputar-putar di urusan dunia. Di Arafah ia berdoa khusyuk, tapi di tenda masih sempat mengeluh soal nasi. Ihramnya sudah benar, niatnya perlu dirapikan.

Larangan ihram—tidak boleh marah, tidak boleh bertengkar, tidak boleh menyakiti—sebenarnya bukan untuk menyulitkan, tapi untuk melatih kejujuran batin. Kalau tanpa ihram kita masih bisa “menyembunyikan diri”, dengan ihram semua terbuka. Kita belajar jadi manusia apa adanya: lemah, berharap, dan sangat butuh ampunan.

Ihram juga mengingatkan kita pada kain kafan. Bedanya, ihram dipakai saat hidup—sebuah latihan sebelum pulang. Maka wajar jika ia menuntut kejujuran total. Tidak ada kamera, tidak ada panggung, tidak ada penonton. Yang ada hanya kita dan Allah. Di momen itu, topeng apa pun terasa berat.

Pesan ihram sederhana: datanglah apa adanya. Jangan bawa dendam, jangan bawa iri, apalagi bawa kesombongan. Bawa taubat, bawa syukur, bawa tekad untuk pulang sebagai manusia yang lebih bersih—bukan cuma bajunya, tapi juga hatinya.

Kalau ihram sudah dilepas, jangan buru-buru mengenakan topeng lama. Biarkan kejujuran itu ikut pulang. Sebab haji yang mabrur bukan yang paling putih pakaiannya, tapi yang paling jujur hidupnya.

Wassalam 

Malino, 5 Jan 2026