Mengurai Akar Permusuhan Barat-Rusia dalam Perspektif Eskatologi Islam
(Dinamika Ukraina-Venezuela-Greenland-Iran)
Salas Aly Temur
Dunia pasca-Perang Dingin yang sempat digambarkan sebagai tatanan unipolar yang dikendalikan Barat, kini sedang mengalami pergeseran seismik menuju multipolaritas. Dalam konfigurasi baru ini, blok Barat yang terdiri dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan dukungan kuat entitas Zionis, berhadapan dengan kekuatan sepadan yakni Aliansi BRICS yang dipelopori Rusia dan Tiongkok.
Namun dalam dinamika Venezuela, Ukraina, Iran dan Greenland, Presiden AS Donald Trump menempatkan Rusia sebagai musuh dan penghalang utama kepemimpinan global Amerika Serikat.
Di tengah dinamika rumit ini, sebuah pertanyaan mendasar mengemuka: mengapa Barat, khususnya Amerika Serikat, menempatkan Rusia sebagai musuh utama, bahkan sering kali lebih primer daripada Tiongkok?
Analisis geopolitik, ekonomi, dan sejarah mungkin telah banyak mengupasnya, namun pandangan eskatologi Islam menawarkan pisau bedah yang berbeda, dengan merujuk pada wahyu dan nubuwah untuk memahami pertarungan peradaban yang sedang terjadi.
Peradaban Barat modern, dengan fondasi materialisme, sekularisme, dan demokrasi liberal, berakar dari Renaisans dan penyingkiran kekuasaan Islam di Andalusia. Puncak kekuatannya terletak pada revolusi sains-industri dan, yang krusial, pada sistem ekonomi yang berubah dari agraris menjadi perdagangan dan keuangan global berbasis riba.
Al-Quran telah memperingatkan sistem ekonomi yang curang ini, dimana kekayaan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja (QS Al-Hasyr: 7), dan yang berdiri di atas praktik riba. Allah SWT berfirman;
"Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka mengatakan, 'jual-beli itu sama dengan riba.' Padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba..." (QS Al-Baqarah: 275).
Rasulullah SAW juga menubuwahkan dominasi sistem ini, “Akan datang suatu zaman pada manusia, saat tidak ada seorang pun kecuali memakan riba. Siapa saja yang tidak memakannya, maka ia akan terkena debunya.” (HR Ibnu Majah). Sistem ribawi inilah yang menjadi mesin kekuatan dan sekaligus titik kelemahan fatal Peradaban Barat.
Narasi sejarah menunjukkan bahwa Rusia telah lama menjadi batu sandungan bagi desain sistem keuangan global yang dikendalikan elit Barat. Konvensi Wina (1815-1817) yang dirancang untuk menata ulang Eropa pasca-Napoleon, termasuk membangun arsitektur moneter baru yang dikendalikan keluarga perbankan seperti Rothschild, ditolak oleh Tsar Rusia yang Kristen Ortodoks.
Penolakan terhadap tatanan keuangan Barat ini berujung pada tragedi; kekaisaran Rusia dihancurkan dari dalam melalui Revolusi Bolshevik 1917, yang banyak sumber sejarah dinyatakan didanai oleh kapitalis Wall Street. Era Komunis Soviet pun menjadi periode penghancuran agama dan spiritualitas.
Kebangkitan Rusia pasca-1991 di bawah Vladimir Putin adalah kembalinya negara ini kepada akar spiritual Kristen Ortodoks dan penolakan tegas terhadap nilai-nilai liberal Barat.
Putin memimpin perlawanan multidimensi: dedolarisasi ekonomi, penegasan identitas sosial yang menolak LGBT, dan proteksi terhadap kehidupan beragama. Inilah yang membuat permusuhan Barat terhadap Rusia lebih mendalam dan eksistensial daripada sekadar persaingan dagang dengan Tiongkok.
Melalui lensa eskatologi, konflik ini bukan sekadar pertarungan geopolitik biasa, melainkan bagian dari pertanda akhir zaman menuju pertempuran besar (Al-Malhamah Al-Kubra). Hadits Rasulullah SAW memberikan isyarat kuat tentang pemicu perang global tersebut:
"Hampir saja (tiba masanya) sungai Eufrat menyibakkan gunung emas. Maka, barang siapa berada pada waktu itu, janganlah ia mengambil sesuatu darinya.(HR Muslim 5152).
Banyak ulama menafsirkan "gunung emas" di sungai Eufrat tidak hanya sebagai emas fisik, tetapi simbol penguasaan sumber daya energi (minyak) dan sistem keuangan (Petrodollar) yang berbasis di kawasan itu. Perebutan kendali atas sistem ini diduga akan memicu konflik dahsyat. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa dalam perang besar itu, 99 prajurat dari 100 yang berperang akan mati! Sesuatu yang mengisyaratkan digunakannya senjata pemusnah massal (nuklir).
Di tengah pusaran ini, posisi dunia Islam seringkali lemah dan terpecah, seperti terlihat dalam ketidakberdayaan mengatur nasib Gaza hari ini. Namun, terdapat nubuwah Qurani yang memberikan harapan dan mungkin relevan dengan konteks saat ini.
Allah SWT berfirman:
"Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat, dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan Romawi) itu, bergembiralah orang-orang yang beriman." (QS Ar-Rum: 2-4)
.Para mufassir klasik umumnya menjelaskan "Rum" sebagai Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium) yang berpusat di Konstantinopel. Namun, dalam penafsiran kontemporatif yang dipegang sebagian ulama, "Rum" dapat mencakup entitas yang mewarisi tradisi Kristen Ortodoks dan geografi kekaisaran tersebut, dengan Rusia modern sebagai pewaris utamanya.
Kebangkitan Rusia yang menentang hegemoni Barat, disertai sikapnya yang lebih menghormati agama dibanding sekularisme Barat, membuat banyak umat Islam, terutama yang memegang nilai agama, melihatnya sebagai kekuatan penyeimbang.
Kemenangan Rusia dalam pertarungan global ini, jika itu yang terjadi, bisa jadi merupakan realisasi dari kegembiraan orang-orang beriman yang dijanjikan dalam ayat tersebut, karena berarti kekuatan yang memusuhi nilai-nilai keimanan (hegemoni sekular-liberal Barat) mendapatkan penantang yang signifikan.
Kesimpulan
Permusuhan Barat terhadap Rusia, dari perspektif eskatologi Islam, berakar pada benturan peradaban yang lebih dalam daripada sekadar persaingan geopolitik. Ini adalah pertarungan antara sistem ekonomi ribawi yang menjadi fondasi kekuatan Barat dengan kekuatan yang menolaknya; antara nilai-nilai sekular-liberal dengan konservatisme spiritual; antara tatanan unipolar lama dengan realitas multipolar baru.
Konflik ini berpotensi menjadi pemicu Al-Malhamah Al-Kubra, perang besar akhir zaman yang dipicu oleh perebutan kendali atas sistem keuangan dan sumber daya global, sebagaimana diisyaratkan oleh hadits tentang Sungai Eufrat.
Dalam narasi ini, Rusia muncul bukan sebagai kekuatan "Islami", tetapi sebagai kekuatan penyeimbang (Rum) yang perlawanannya terhadap hegemoni Barat dapat membuka ruang bagi kebangkitan umat Islam, sesuai dengan isyarat dalam QS Ar-Rum. Wallahu a'lam bish-shawab.
Hanya Allah yang mengetahui hakikat dan waktu terjadinya segala nubuwah. Kewajiban kita adalah mengambil pelajaran, mempersiapkan iman dan ketakwaan, serta senantiasa berpegang pada ajaran agama di tengah badai fitnah dunia yang semakin dahsyat.