Semut dan Lalat
Ashar Tamanggong
Pembimbing Haji Patria Wisata
Di hadapan kita ada dua makhluk kecil yang sering diremehkan: semut dan lalat. Ukurannya sama-sama mini, suaranya sama-sama tak minta izin, kehadirannya sama-sama bikin kita refleks mengibas tangan. Tapi jangan salah—di balik tubuh mungil itu, tersimpan pelajaran kualitas yang mahal. Mahal bukan karena harganya, tapi karena jarang direnungkan.
Semut itu kecil, tapi serius hidupnya. Kerjanya terukur, jalannya rapi, dan tujuannya jelas. Kalau semut berbaris, itu bukan sekadar ikut-ikutan. Itu disiplin. Kalau semut mengangkat remah roti yang lebih besar dari badannya, itu bukan nekat. Itu optimisme yang disertai ikhtiar. Semut tidak berisik memamerkan kerja, tapi hasilnya nyata. Ia bekerja dalam senyap, pulang membawa bekal.
Lalat lain cerita. Tubuhnya juga kecil, sayapnya juga lincah. Tapi coba perhatikan orientasinya. Lalat mudah sekali tertarik pada yang busuk. Ada gula, ada bangkai, ada kotoran—di situlah ia mendarat. Sekalipun ada taman bunga di sekitarnya, lalat tetap memilih yang bau. Bukan karena tak ada pilihan, tapi karena kualitas selera. Lalat bergerak cepat, terbang tinggi, tapi sering berputar-putar di tempat yang sama. Capek? Iya. Progres? Entahlah.
Di sinilah kita diajak bercermin. Dalam hidup, kita bisa sibuk seperti lalat—rame, cepat, banyak agenda—tapi kualitas arah patut dipertanyakan. Atau kita bisa sederhana seperti semut—pelan, konsisten, fokus—namun tujuan tercapai. Ukuran tidak menentukan nilai. Kecepatan tidak selalu identik dengan kemajuan. Yang menentukan adalah arah.
Semut tahu ke mana pulang. Lalat sering lupa arah, asal ada yang menarik. Semut jatuh? Ia bangkit, lanjut barisan. Lalat diusir? Ia kembali lagi ke tempat yang sama. Semut bekerja untuk hari depan; lalat mengejar kepuasan sesaat. Ini bukan soal rajin atau malas, tapi soal kualitas pilihan.
Dalam dunia manusia, semut itu ibarat orang yang sabar membangun kompetensi. Ia belajar, berproses, mau antre. Tidak tergoda jalan pintas yang bau meski kelihatan menguntungkan. Lalat itu ibarat orang yang doyan sensasi. Asal viral, asal cepat, asal terlihat—meski sumbernya keruh. Heboh sebentar, lalu hilang arah. Ramai di awal, sepi di akhir.
Agama pun mengajarkan hal yang sama. Allah tidak menilai banyaknya gerak, tapi benarnya arah. Amal yang kecil tapi konsisten lebih dicintai daripada yang besar tapi musiman. Semut mengajarkan istiqamah. Lalat memperingatkan bahaya tergoda yang busuk meski tampak menggiurkan.
Kadang kita heran, “Kok hidup saya capek tapi kok hasilnya segini-gini saja?” Mungkin karena kita terlalu sering terbang seperti lalat, bukan berjalan seperti semut. Terlalu sering lompat dari satu hal ke hal lain, bukan menuntaskan satu kebaikan dengan sungguh-sungguh. Terlalu sibuk menilai, lupa membenahi.
Semut tidak pernah protes soal ukuran. Lalat juga tidak pernah malu dengan pilihannya. Yang malu seharusnya kita—kalau sudah diberi akal, tapi masih salah selera. Sudah diberi petunjuk, tapi masih betah di yang bau.
Maka, pelan-pelanlah. Rapikan barisan hidup. Pilih lingkungan yang bersih, tujuan yang jelas, dan proses yang jujur. Jangan minder jadi “semut”—karena di situlah kualitas dibangun. Jangan bangga jadi “lalat”—karena ramai belum tentu bernilai.
Akhirnya, hidup ini bukan soal seberapa cepat kita terbang, tapi ke mana kita mendarat. Dan di hadapan Allah, yang dinilai bukan keramaian sayap, melainkan keteguhan langkah. Semut dan lalat sama-sama kecil. Tapi kualitas? Jelas beda.
Wallahu A'lam
Makkah, 29 Jan 2026